Bersyukur

“Duh gila cape bener gue kerja hari ini, mana besok masih banyak pula kerjaan, ah si bos nih gak pernah perhatian.”

*apdet status pake smartphone*

*duduk di ruangan AC*

*nyeruput kopi seharga lembaran biru*

Banyak dari kita yang gak sengaja mungkin pernah ada di situasi macam itu.

Kita?

Hmm ya mungkin beberapa laah, admit it!

Kamu, iya.. Kamu :’)

Berapa dari kalian yang lagi baca ini pakai smartphone? Apel kroak? Samsul? Somay? Lek nopo? Asos? Blekberi?

Berapa dari kalian yang ketika baca ini dan punya smartphone, pernah ngopi mahal? Harga selembar uang biru? Yang di cafe2 itu?

Dan berapa dari kalian yang kerjanya di ruangan AC?

Siapa yang suka apdet status urusan kerjaan berat banget?

GUE.

Iya semalem gue abis apdet status to-do list hari ini yang ada 16 biji. Beranak pinak dari kemaren TT

 

Pernah gak diceletukin temen, “bersyukur dikit sih”?

Pernah, dan yang nyeletuk bukan temen. Bukan keluarga.

Bahkan hati sendiri yang ngetuk. Ngetuk saya untuk ingat….betapa beruntungnya saya sudah dapat pekerjaan tetap, dengan posisi yang aman, perusahaannya baik, bosnya toleran, deket dari rumah, gajinya diatas UMR dan bisa untuk membayar cicilan cicilan serta bantu orang tua.

Ketika teman teman satu geng saya masih pontang panting kesana kemari masukin lamaran – mereka lulusan S1, saya D3.

Betapa beruntungnya saya masih dengan lancar menggunakan smartphone apel kroak saya….yang dibeli menggunakan hasil keringat saya, ditambah jual kalung dan laptop.

Ketika beberapa orang masih harus bertahan menggunakan HP java symbian.

Betapa beruntungnya saya sudah pernah sekali saja mengicip seperti apa rasanya minuman di starbak, dan satu kali menyicip minuman di jeko.

Ketika yang lain masih minum kopi sachetan.

Bukan, bukan mau sombong. InsyaAllah saya gak ada maksud dan arah kesitu.

Tapi ketika saya mengeluh, seketika hati saya berontak.

Kenapa saya harus mengeluh, saat orang tua saya masih lengkap dan sehat.

Papa masih kerja.

Mama gak pernah ngeluh dengan pekerjaan rumah, nyuci baju saya, dsb.

Kenapa saya harus mengeluh, saat badan saya sudah tergolong kelebihan gizi, sehat walafiat, kalaupun sakit juga sudah terdaftar BPJS dan dibayarkan kantor.

Kenapa saya harus mengeluh, saat sampai rumah, saya bisa bercengkrama dengan adik saya yang kecil-lucu-tapi-rewel.

Saat weekend selalu bisa ketemu pacar 5 tahun, yang gak harus LDR-an karena masih 1 kota.

Saat sepi melanda, saya bisa kapan saja kirim whatsapp chat ke:

– sahabat jauh saya, yang pasti akan selalu punya sejuta cerita untuk saya, yang rela tetap disebut sahabat ketika sudah lebih dari 5 tahun tidak bertatap muka.

– sahabat laki laki LDR saya, yang selalu punya cara untuk menunjukan perhatiannya ke saya, satu satunya laki laki yang tidak akan dicemburui oleh pacar, meskipun seharian saya habiskan waktu sama si sahabat ini dan mengabaikan pacar.

– geng saya, yang walaupun berbeda ideologi dari ke-7 nya, tapi tetap dirindukan.

– adik adik saya yang berbeda keyakinan tetapi sangat jauh lebih dewasa memandang kehidupan.

Dan keluhan saya, tidak ada apa apanya dibandingkan bapak penjual guci.

Lho kok?

Beberapa bulan yang lalu, saya tidak sengaja bertemu dengan bapak penjual guci ini.

Saat itu saya dan teman kantor, sedang mencari ‘cemilan’ saat makan siang. Kebetulan daerah dekat kantor saya itu, jalannya menanjak-menurun.

Dan saat saya akan berhenti di sebuah mini market yang lahir di bulan Maret, perhatian saya tertuju ke bapak itu.

Sosoknya mengingatkan saya dengan mbah Kakung, yang sudah 80+. Keriput dimana2, kurus.

Bedanya, mbah saya alhamdulillah sekarang tinggal di rumah anaknya, setiap bulan dapat kiriman uang, dan selalu dikontrol kesehatannya.

Bapak – atau mungkin mbah ini, bekerja setiap hari, mendorong sepeda ontel tuanya (karena tidak sanggup mengayuh) yang berisi guci guci besaaaar sekali, tanpa alas kaki.

Siang itu panas sekali, bahkan saya dan teman kantor bermaksud membeli jus buah.

Dan saya masih hanya memandang mbah itu, dengan hati yang sudah berkeping keping hancurnya di dalam (ini gak lebay, sungguh). Pertemuan pertama kami, ya hanya pandangan gitu aja. Si mbah senyum ramah, saya melongo.

Sampai balik ke kantor, saya masih sakit. Hatinya.

“Ta, tadi liat mbah mbah yang jual guci gak?”, tanyaku ke rekan kerjaku tadi. “Hmm? Gak. Kenapa emang?”

“Tadi ada mbah mbah jualan guci pake sepeda di dorong di tanjakan tanpa sendal. Kebayang gak sih? Dia punya anak gak ya? Punya cucu gak ya? Pada kemana ya? Kok tega sih.”

“Sebenernya kita gak bisa judge keluarganya gitu aja sih, Put. Kadang, orang sepuh begitu, memang maunya aja kerja. Padahal sudah dilarang sama keluarganya.”, Vita, rekan kerjaku jawab sambil menyeruput jus yang kami beli.

Tambah remuk. Kalo emang bener kata Vita, si mbah itu emang niat mau kerja, terus saya mah apa atuh, udah kerjanya segini enaknya mau ngeluh?

 

Beberapa hari kemudian, saya papasan dengan si mbah itu, kali ini dekat sekali dengan kantor. Rupanya si mbah jualan sampai masuk desa.

Saat itu saya sedang dongkol bercampur emosi karena habis dimarahi pak bos.

Seketika rasa emosi marah saya hilang, karena kembali teringat si mbah. Kami pun hanya bertukar senyum.

Hampir setahun, saya sudah tidak pernah bertemu dengan si mbah. Nyesel? Iya, karena dulu gak sempat tanya tanya, atau sekedar memberi segelas jus, yang buat kami mungkin tidak seberapa.

Tapi gak segitu nyeselnya juga, karena wherever you are now, mbah, semangatmu adalah semangatku.

Percaya atau tidak, saat ini, setiap habis ngeluh, hal yang saya ingat adalah si mbah penjual guci ini. Yang tidak pernah mengeluh dan tetap bekerja keras.

Andai harus bertukar peran, saya pun tak akan sanggup menjadi sepertimu, mbah.

Dan saya ingin, kalian juga menemukan sosok inspirasi kalian.

Bukan cuma nggombal ke pacar, “kamulah inspirasiku sayang.”

Iya, yang itu inspirasi karena kalo lagi males kerja, inget biaya menikah itu besar.

Tapi coba temukan sosok inspirasional kalian, yang ketika kalian bercerita tentangnya, hati kalian ikut bergetar.

Yang ketika kalian habis mengeluh, ada rasa ingin mencabut keluhan yang diucapkan, karena merasa tak pantas mengeluh.

Terima kasih, mbah penjual guci.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s