Stop! You’re not it.

Minggu kemarin, saya dapat sebuah peringatan yang (mungkin lebay) sepertinya tidak terlupakan dalam hidup.

An accident.

Ugh, bayanginnya aja saya masih trauma.
Keinget saat saat ‘gedubrak’ dan jatuh.

Tapi pelajaran yang saya dapat, SANGAT NYATA, se-nyata lebam di paha kanan saya yang sampai sekarang tak kunjung menghilang.
Saya itu lelah.

Well, sekalian tsurhat tertseluboeng.

Menjelang tanggal 20 Februari lalu, saya resah.
Karena tanggal 9 Maret sudah harus di Jakarta dan everything should ready.
(Baca, persiapan pameran)
Pulang malam, harus keluar tengah malam, dan kesana kemari di siang harinya, sudah menjadi rutinitas saya pada masa masa itu.
Tanggal 9 Maret petang hari, saya berangkat ke Jakarta.
Meninggalkan setumpuk kerjaan dengan perasaan amat sangat bersalah (tapi kemudian lupa dengan perasaan itu).

Singkat cerita, pameran selesai, respon bagus, saya pulang ke Yogyakarta tanggal 15 Maret.
Esoknya saya langsung ke kantor, disambut oleh sisa kerjaan dan tambahan kerjaan hasil pameran.
Kembali pulang malam dan siangnya kelayapan saya jalani.

Sampai tanggal 24 Maret, saya masih pulang malam.
Kali itu saya beruntung karena dapat pinjaman motor gratis 1 hari dari mas pacar.
Pulang larut pun tak jadi masalah, karena saya bawa kendaraan sendiri.

Jam 7 malam dan kerjaan saya sudah selesai.
Bersiap pulang dan menyambut long weekend.
Hujan turun dengan lebatnya, sempat menyulutkan keinginan saya untuk pulang.
Sempat terfikir untuk berteduh dulu, tapi saya keburu malas.

Singkat cerita lagi (karena malas mendeskripsikan saat saat saya jatuh), saya mengalami kecelakaan.
Luka lukanya masih ada, ada yang belum kering, dan saya pun masih jalan dengan tergopoh gopoh.

Kembali ke pelajaran berharganya, saya lelah.

Saya tidak pernah dengarkan badan saya.
Sebesar apapun badan saya, dia tetap punya limit yang harus kita patuhi.
Bukan lantas menjadi sok kuat dan jagoan menantang badan kesana kemari.
Saya selalu konsumsi vitamin, suplemen, obat, dan sayur serta buah, tapi jarang olahraga dan istirahat kurang.

Sudah terbayar di bed rest saya 4 hari setelah kejadian tersebut.

Pelajaran selanjutnya, saya sok tahu.

Sesaat setelah kecelakaan, saya diantar pacar dan rekan kerja langsung ke klinik langganan saya untuk mendapatkan perawatan medis.
Setelah mendapatkan perawatan medis, dan saat dokter sedang menulis resep, saya beberapa kali mencoba menebak obat apa yang akan diberikan ke saya.
“Paracetamol? Asam mefenamat? Amoxcilin? Analgesik?”

Dan jawaban dokter hanya 1 kata, “bukan”.

Seorang rekan kerja saya berceloteh, “halah elu gak usah sok tahu, elu kan cuma lulusan Inggris, gak usah sok tahu tentang kedokteran dan farmasi deh!”

Bukan sakit hati, tapi saya merasa tertampar.
Selama ini saya memang sering sok tahu.
Sering menduga duga apa yang akan terjadi, padahal saya tidak punya alasan pendukung.

No matter bagaimana cintanya saya dengan dunia farmasi asal asalan karangan saya, tapi saya gak punya kapabilitas disitu.

Dan tidak hanya soal itu saja, tapi juga dalam hal serupa.
Perawatan luka basah di tangan saya, hasil rekaan saya semata.
Dalam sehari ganti kasa 2 kali, dibersihkan pakai cairan antiseptik, diberi obat merah, ditutup lagi.

3 hari saya melakukan hal yang sama, dan setelah di hari ke-4 saya kontrol, jawaban yang saya dapat dari dokter tidak kalah kerasnya menampar saya lagi.
“Wah salah mbak, bukan gitu perawatannya. Justru kemarin sudah ditutup dan biarkan 3 hari kemudian baru dibuka, oleh dokter. Bukan asal asal begini, jadi lama sembuhnya.”

Sedih? Lumayan.
Lagi lagi saya sok tahu, saya merasa seolah olah saya tahu dan paham banget soal penyembuhan luka.
Tanpa research, tanpa tanya tanya, tau tau saya melakukan itu, dan ternyata, salah!

Pelajarannya lagi,
Stop! You’re not it.

Kita, saya tepatnya, sering kali merasa sok tahu akan hal tertentu.
Hanya bermodalkan kata kata ‘biasanya saya….’
Atau ‘kata orang….’

Mau sampai kapan sok tahu begitu?
Sampai akhirnya terbukti apa yang katanya kau ketahui itu salah?

Untuk apa sok tahu macam itu?
Biar dunia tahu kalau kau sudah tahu tentang perkara itu?

Lagi lagi betul pepatah jadul: Ojo Keminter.

Lha jelas jelas orang yang pinter pun bisa salah, apalagi kita? Saya?

Yuk mulai reset diri kita di posisi ‘humble’ aja, gak ada ruginya kok!

Note: being humble is not equivalent as being cupu or easy to be fooled ya! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s