Let’s Talk about Education (1)

Disclaimer:
I am not a mentor nor a teacher, this post is only my pure opinion about education (kids, specifically) and in Indonesia.
Sempet tergelitik beberapa kali ketika lagi ngumpul sama temen-temen dan ngomongin soal pendidikan di Indonesia.
Beberapa teman saya ada yang sangat kontra, tentang bagaimana guru jaman sekarang mendidik, tentang tontonan di TV local Indonesia yang sungguh sangat tidak mendidik, tentang orang tua yang saat ini skeptic, sampai apa tujuan asli dari Ujian Nasional.
Jika dalam forum seperti itu, saya termasuk yang cenderung ‘diam’, bukan karena tidak tahu, but I am really not in mood for making such a debate about that. Alih alih berpendapat, malah jadi musuhan sama temen karena gak sependapat (?) who knows..
Being skeptic? Maybe I am.
Tapi itu dulu, saat saya memang benar benar merasa bahwa pembahasan soal pendidikan Indonesia bukan urusan saya.
Tahun lalu, saat saya harus mengurus kepindahan sekolah adik saya, akhirnya mau-gak-mau-tapi-harus-mau, mata saya terbuka tentang pendidikan di Indonesia.
Dari mulai cari SD yang tepat di Yogyakarta, yang ternyata susah. In which people said that this is the city of education?
Akhirnya iseng iseng berhadiah, saya blog walking kesana kemari sampai nyasar ke forum newly parents.
Most of them are highly recommended for the private school; the very expensive one.
Cek-cek ombak harga, baru elementary school aja, per bulan udah sekitar 700k paling murah, sampai 1500k.
W-O-W! dikali 6 tahun aja itu, berapa? Belum lagi antar-jemputnya, jajannya, uang pangkal, uang kegiatan.
Sorry, no offense; bukan berarti saya perhitungan mengenai pendidikan adik (atau anak nantinya), but I am just be real. Gaji papa belum sampe 10000k lah, gaji saya belum sampe 5000k, yakin banget mau membiayai sebanyak itu sementara pengeluaran perbulan juga sudah sekian ribu k. (Belum dihitung beberapa cicilan)
Dan saya termasuk golongan yang percaya, pendidikan terpenting itu berasal di rumah. Karena, orang tua adalah forever teacher, dan waktu yang dihabiskan seorang anak di rumah akan lebih lama dibandingkan di sekolah (please don’t count the full-time school).
Pilihan akhir, saya menyekolahkan adik di salah satu SD negeri di Kota Yogyakarta.
Not the number one best state elementary school, yet number 2 or 3, I could not exactly remember 😀
Bebas SPP, uang pangkal, uang kegiatan. Alhamdulillah, saya mengalokasikannya ke uang transportasi aja, secara dari rumah ke sekolahnya adik sekitar ±8 km. *Hidup Gojek!*
Dan ini sudah hampir 1 tahun adik bersekolah. Menyesal? Tidak.
Walaupun berbagai cerita sudah menghiasi, termasuk kenakalan anak laki laki, bullying, genk, dan lain lain, tapi Alhamdulillah adik saya masih bertahan.
Sekali lagi, saya membekali pendidikan di luar sekolah ke adik saya. Hmm, belum dan bukan ikut bimbingan belajar.
Tapi saya berusaha dekat dengan adik saya, se-dekat mungkin.
I always interviewed her about what happen in school at the day, I interviewed her about her friends, teachers, and their personality. (not the very serious interview, the fun one)
I told her what should she do if there is a problem with her friends, and what should she report to her teachers.
And of course I apply the discipline system at home.
We have rules, she has daily schedule, I always give her exercises in a fun way regarding her study.
Saya tidak pernah bermasalah dengan sekolah negeri, walaupun, well…yeah…you know… people said bad things about it.
Beberapa guru yang terkesan asal-asalan dalam mengajar, terlalu banyak santai, ketidak disiplinan, terlalu banyak main main, or everything. (sorry, no offense dear you lovely teachers, I know guru-guru jaman sekarang sudah lebih terbuka dan efektif cara mendidiknya)
Belakangan stereotype di Indonesia tentang pendidikan sekolah negeri were not really good, and to be honest, I had love/hate relationship with that.
Mungkin yang di negatifkan mereka memang adanya benar beberapa, tapi juga masih banyak kok poin plusnya.
Saya diplanning dari TK dulu, mama mau menyekolahkan saya selalu di sekolah swasta, tapi pada kenyataanya takdir berkata lain, akhirnya saya lulus SMP sampai kuliah di lembaga pendidikan negeri, and mama is OK with that.
For those who really willing to educate their children in private schools, it is fine and OK, since lately saya lihat sekolah swasta juga sangaaaat bagus.
Tetapi buat yang mungkin merasa akan sangat dipaksakan jika anaknya bersekolah di sekolah swasta, it is OK also to search the best state school.
For me, gak ada sekolah yang sempurna sih. Malah kadang beberapa anak akan merasa sangat minder ketika dia sekolah di sekolah swasta, sementara teman teman sebaya dekat rumahnya bersekolah di sekolah negeri.
Ada dan banyak ternyata yang tidak siap atau tidak biasa untuk sekolah di sekolah swasta, dan ternyata keputusan untuk sekolah di situ adalah ego orang tuanya.
Feel bad for that 😦
No matter what kind of school, the point is that the essential education starts from parents, and from home.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s