Let’s Talk about Education (2)

Disclaimer:
I am not teaching nor educating young people to do sex after reading this post. I AM educating them to open up their mind about that. Whatever you choose, I’ll appreciate it.
Oh yeah, this post contains some maybe-not-really-appropriate-for-your-kids-or-depends-on-you words.

Starting with criticize about Indonesian young education, ended up with my own true story.
Oh how selfish I am!

Kali ini, saya buka topik sensitif.

SEX Education.

#kemudianhening
#mlipiralus
#didemomassa

Well, if you want to stop read this right now, it’s alright, lemme tell you where the exit button is.
But if you’re still curious, then continue. Keep scrollin till ya hatin meh! \m/

Kemarin, saya terlibat diskusi dengan pak Direktur dan rekan kerja, tentang apakah wanita sebenarnya diam diam kalau lagi kumpul kumpul, bahas tentang pria?
Of course!
Apakah bahas tentang sex life?
Hmm….. *senyumsenyum*
#ditoyorboss

Saya dan rekan kerja sesama wanita, cuma bisa senyum senyum.
Kami, biasanya bahas sex life dengan sahabat. Maksudnya, dengan teman yang memang dekeeeeeeeeettttt banget.
Gak sembarangan ngopi di starbak kemudian bahas isi majalah cosmopolitan juga.
Beda sama lelaki, yang mungkin ngobrol tentang sex life bisa lebih terbuka, gak harus sama temen deket.
Mungkin loh yah, mungkin.

Kemudian, diskusi berganti.
Pak Direktur mengisahkan ada teman wanitanya yang dikenal sangat religius, tetapi pada suatu hari ternyata lebih menggebu gebu kalau cerita tentang sex life.
Saya juga pernah punya teman wanita, alumni sebuah perguruan religius, yang lebih update film porno.

But why? Mungkin hanya mereka dan Tuhannya yang tahu.

Yang saya cermati bersama pak Direktur dan rekan kerja, adalah sangat minimnya pendidikan sex di Indonesia.

Gampangnya, banyak remaja yang terjerat sex bebas, beralasan hanya 1 kata; penasaran.

Kenapa penasaran? Karena tau tentang sex dari sumber yang salah.
Let’s say pornhub, youporn, ecchi manga, or you name it.
*brb googling*

Kenapa tau dari sumber yang salah? Karena gak dapet sumber bener.

Apa sumber benernya? Orang tua.

Lah, kenapa orang tua? Karena adanya mereka jadi ada kita. Berarti mereka lebih paham dibidang reproduksi, dibanding kita yang saat itu berusia 15 tahun.

Bisa ditarik kan, akar pangkalnya?
Whoops, bukan saya menyalahkan orang tua.
Tapi mungkin, culture Indonesia yang masih ‘tabu’ membicarakan tentang sex; terutama ke anak.

Hal itu pula yang di-amin-i oleh pak Direktur dan rekan kerja saya.
*saat itu pak Direktur langsung pamit meeting, meninggalkan saya dan rekan kerja saya di ruangan, mendiskusikan tentang ini*

Rekan kerja saya ini, aktivis kesehatan reproduksi pada remaja di suatu LSM di Yogyakarta.

Dia sering mengedukasi sex ke young people; mahasiswa dan pelajar.
Dia mengakui betapa sulitnya meminta izin ke SMP dan SMA untuk mengedukasi sex di sekolah.
Alasannya, hal tersebut sesat, tidak positif, gak baik untuk pelajar, belum waktunya, dll.
Heran juga, dibilang belum waktunya, padahal siswi kelas 4 SD sekarang sudah mengalami fase menstruasi.

Ini bukti nyata betapa kami warga Indonesia kekurangan edukasi soal sex.
Bukan mengajarkan sex bebas, tetapi mengenalkan basic information tentang tubuh setiap manusia.

Jangan menelan mentah mentah arti kata sex sebagai proses bereproduksi.
Sex, juga berarti mengenali jenis kelamin.

Rekan kerja saya cerita, pernah sekali LSMnya dikunjungi seorang praktisi kesehatan dari luar negeri, dan alangkah kagetnya mereka ketika mengetahui orang tua di Indonesia masih membahasakan nama alat kelamin dengan menggunakan nama hewan.
*bayangin dah*

That’s not make any sense, menurut mereka.

Children has to know exactly the name; either it is penis or vagina.
It helps them whenever they want to communicate with their parents, doctors.
It is health vocab, not a wrong one.
You should start to use that from now on.

Mungkin gitu lah apa yang dikatakan praktisi kesehatannya.
Intinya, bukan karena tabu, saru, atau jorok ketika kalian menyebut nama medis dari alat kelamin.
It’s fine, normal, and OK.

Tidak hanya hal penamaan, belum lagi ketika memasuki usia matang secara seksual, peran orang tua pun kadang dan seringnya minim.
Contoh, ketika anak perempuan mengalami fase menstruasi untuk pertama kali, apakah lantas orang tua mengedukasi tentang apa saja yang harus dilakukan, bagaimana fase itu terjadi, apa akibatnya jika tidak, apa manfaatnya, dll.
Ada, tapi hanya beberapa.
Sebagian menganggap si anak sudah cukup tahu dari buku/TV/temannya.

Padahal, sebagai orang tua juga tidak pernah menyaring buku bacaan/tontonan TV/karakter teman si anak.

Apalagi, anak laki laki yang banyak keponya.
Ada orang tua yang menganggap sambil lalu ketika tahu anak laki lakinya sudah ‘mimpi basah’, atau matang secara seksual.
Menganggap anaknya sudah tahu batasan, tanpa pernah mencoba mengedukasi.
Lantas sang anak akhirnya mencari tahu, nyasar ke hal negatif, dan ketagihan.

Rasa rasanya hal tersebut sejatinya penyebab mayoritas penyimpangan seksual di Indonesia yang marak.
Pernikahan dini karena free sex.
LGBT phenomenal.
Sampai predator pedofilia serta exhibisionist.

Sedikit saya merasa lega, ketika anak pak Direktur saya yang masih play group, sudah diajari tentang edukasi sex.
She clearly understand about how to say her genital, what makes it different with her boy friend’s, why so.

Sudah banyak generasi millenials yang melek mata soal ini sekarang.
Tapi juga masih ada pengaruh negatifnya. Internet, digadang-gadang menjadi tersangka nomor 1.
Keberadaan informasi yang sering menyesatkan, terpaparnya budaya barat yang ditelan mentah-mentah oleh young people, bukti eksistensi diri, menjadi hubungan sebab-akibat yang susah dipisahkan.

Google is not always right when it comes giving you health information. Go to library and find resources. Read it.
Don’t ever litterally adapt what’s on TV. Mini skirt, tight shirt, will only make you look bitchy.
Post kissing photos in social media, litterally check in in some hotels with your boyfriend, doesn’t make you look fab. It sucks.

Boleh belajar tentang sex via buku; jika memang orang tua masih canggung membicarakannya.
Tapi ketika kamu ada pertanyaan, jadikanlah orang tua menjadi your first google.
It is their responsibility to explain it to you.

Pernah juga saya lihat ada social media khusus yang membahas tentang sex education, tapi lebih khusus tentang free sex.
Tanpa bermaksud menyinggung SARA/rasis, mendingan soal free sex itu dikembalikan ke individu masing masing.
Sudah dewasa means sudah tahu dan bisa memilih mana yang benar mana yang salah.
Pun, kalau pengetahuanmu tentang basic sex sudah paham, kamu akan lebih pintar lagi!

Open up your mind! Sex education bukan sepenuhnya negatif.
Karena cuma kamu yang bisa mengerti badanmu.
Cuma kamu yang harus menjaganya.

Buat orang tua atau calon orang tua atau kakak kakak yang punya adik kecil disekitar, mungkin lama kelamaan ada muncul pertanyaan pertanyaan konyol like: adik bayi dari mana? Kenapa kok kelaminku beda sama temanku?

Bisa banget dibaca atau ditonton videonya dibawah ini:

this one is so funny! they are adorable as it should 😛

Selamat berjuang! 😀
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s