Melihat ‘nyaman’ sebagai sebuah ancaman

Loh kok?
What’s wrong with being comfort?
Kenapa?

Wait, saya jelaskan.
Saat ini saya sedang mencoba memandang rasa ‘nyaman’ sebagai salah satu ancaman.
Yap, ancaman dalam hidup Anda.

Nyaman.
Apa sih maksudnya?
Kalo menurut kbbi, nyaman adalah…

Pokoknya yang ena ena yah nyaman itu :))

Kalo ena ena, kenapa nyaman bisa jadi ancaman?
Iya, klasik sih, karena segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik.
Terlalu nyaman itu membahayakan.
No, I ain’t talkin bout how dangerous comfort zone is.
Mari kita tinjau dalam sudut pandang laki laki dan perempuan; the PHP case.

Ketika let’s say…
Minggu kemarin, saya baru saja menonton film fenomenal abad ini; AADC? 2 The Movie.
Setelah saya larut dengan ceritanya, baper kalau kata anak jaman sekarang, belakangan saya menyadari.
Si tokoh utama itu, dengan mudahnya berpindah ke lain hati dalam 1 malam.
Karena apa? Karena nyaman.

Si tokoh utama tetiba menemukan lagi kenyamanan itu setelah, 9 tahun lupa.
Padahal, dalam 9 tahun itu pun dia sudah di-nyaman-kan oleh yang lain.

Kalau begitu ceritanya, menurut saya nyaman itu bisa menjadi ancaman besar.
Gimana nggak, bentar lagi nikah kok baru berasa lagi nyaman-nya, bukan sama calon suami pula?

Atau kalau ditinjau dari kasus selain percintaan..
Saya punya seorang adik kelas, anaknya cantik dan pintar.
Selepas SMA, dengan mudahnya dia diterima di salah satu PTN, yang mengharuskan dia merantau.
Segala persiapan dia lakukan, sampai akhirnya hari pertama ospek.
Pulang ospek, dia nangis dan minta pulang ke rumah.
Tanpa pikir panjang, dia pulang, melupakan ospek dan indahnya masa perkuliahan.
Alhasil, dia gak jadi kuliah. Membantu orang tua di rumah, dan saat ini sudah menikah.
What’s wrong? Memang gak ada yang salah.
Saya sih menyayangkan kemampuan yang dia miliki; dan juga ke-niat-an orang tuanya menyekolahkan dia.
Mungkin karena saya tau pasti, bagaimana perjuangan orang tua saat akan menguliahkan anaknya.
Tapi dia, sudah bayar semuanya, baru 1 hari, dan pulang begitu saja.
Alasannya, dia sudah nyaman di rumah.

Tentu jika mau diceritakan, banyak kisah pekerja yang akhirnya pasrah sampai tua bekerja di kantor yang sama, posisi yang sama; karena sudah nyaman.
Well, contoh diatas sudah nyerempet ke kisah comfort zone.

Dan mungkin, salah satu dari kalian juga sedang dibelenggu dengan rasa nyaman.
Whether it is a good comfy; or a bad one.

Terus, harus gimana biar gak terjebak di ancaman si nyaman?
Kalau menurut saya sih, ada macam macam caranya.
Dalam kasus percintaan, control yourself tentu menjadi kunci-nya.
Biar gak di PHP, jangan terlalu ge-er, jangan sok nyaman.
Dalam kasus move on ke lingkungan yang baru, ya jalanin saja.
Tentunya dengar dan rasakan suara hatimu juga, tapi minimalisir emosi. (Sama aja control yourself)
Dalam kasus comfort zone, menurut saya it is okay kok sesekali merasakan gak nyaman.
Karena hidup akan terlalu lempeng dan monoton kalau nyaman terus.

So, watch yourself out from the comfy! 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s