The (not so) Perks of Being a Firstborn

Sebagai anak pertama, dan pernah menjadi anak tunggal selama 14 tahun, saya bisa lah ya menyimpulkan tentang firstborn.

Banyak teman teman yang berpikir, enak yah jadi anak pertama, enak yah jadi anak tunggal, enak yah adiknya masih kecil, jaraknya jauh, dll.
First of all, perkenalkanlah dulu wang sinawang.

Now I want to elaborate the (not so) perks of being a firstborn.
People think that being a firstborn means:

you’ll get every new things. New experience, new toys, new clothes, etc.
Aww, yes of course!
Alhamdulillah yahh saya belum pernah pakai baju lungsuran (baca: hasil turun temurun) dari kakak; either itu kakak sepupu atau kakak kandung.
Baju saya pada masa kecil itu, selalu baru.. (Mendadak angkuh)
Mainan? Tas? Aksesoris? You name it, dear.. Barang barang gue bau baru semua!
Diberikan fasilitas kursus di lembaga terkenal untuk yang pertama, diajak jalan jalan wisata untuk yang pertama, mengalami rasanya semua jadi yang pertama.
That is awsome, man!
Yaaa, walaupun…
Banyak orang yang berkomentar kalau adik kita lebih cantik/ganteng.
Lantas mereka berceletuk bahwa kami adalah “percobaan pertama yang gagal”.
Hal itu pasti deh dihadapkan di kami.
Ataupun, gak jarang juga kami jadi produk percobaan tertentu.
Kami disekolahkan di sekolah yang baru dikenal orang tua. Kalau ternyata sekolah tersebut

kurang bagus, ya biar kami yang menjalani. Nanti adik akan di sekolahkan di sekolah yang lebih bagus.
Dik, we’re born to be tested before you.
punya adik yang bisa dijadikan ‘babu’ dadakan.
Yang ini gak kalah awesome dibanding yang tadi.
Kapan lagi bisa duduk di sofa bak raja, dan kemudian segala sesuatu diladeni oleh adik?
Tak jarang ancaman kecil pun disampaikan, seperti ini:
Kakak: *lagi duduk nonton TV di sofa* “dik, ambilkan minumanku dong, itu di kulkas.”
Adik: *yang tadinya lagi tiduran di karpet, berdiri nurut mengambilkan dan memberikannya. Kemudian balik tiduran lagi.*
Kakak: “ealah, lupa. Itu kripiknya juga dong!”
Adik: *jalan lagi, ngambilin*
Kakak: “ih ini acara apaan sih. Duh remot mana remot? Dik, remot mana?”
Adik: (kenapa harus gue yang nyari….) *kasihin remot*
Kakak: “eh iklan lagi. Dik, HP gue dong di kamar tolong.”
Adik: “kak, please deh. Cape ah! Gak mau!”
Kakak: “okay, gak jadi gue beliin tas baru loh ya.”
Adik: “eeeh… Jangan dong. Ini gue ambilin.”
Kakak: (yesss!) *ketawa setan*

Hayo, ngaku siapa yang sering begitu sama adiknya?
Sayaaaaa~~~

Walaupun, gak jarang kadang kala kondisi berubah menjadi:

Mama: “kak, ini si adik badannya panas, katanya kakinya pegel, kamu suruh apa sih?”
Kakak: “itu tadi cuma ambilin minum, cemilan, sama HP kok.”
Mama: “yaampun ih kakak mah tega banget, kan kasian adiknya baru pulang habis ujian olahraga, main suruh suruh aja sih! Dasar kamu males ya, sekarang anterin tuh adiknya ke dokter!”
Kakak: (laaah… Ada apa hubungannya deh ah… Apa apa yang disalahin gue juga)
Sering.
Disalahkan karena adik bla bla bla.
Gue juga T___T

Tapi diluar dua hal tersebut, menjadi seorang firstborn atau anak sulung itu ternyata pendidikan alami.

Pendidikan untuk menjadi natural leader.
Gak jarang saya temui, beberapa pemimpin atau teman teman yang berjiwa pemimpin itu adalah, anak sulung.
Mungkin hal itu terbentuk dari rumah, karena si sulung selalu diharuskan menjadi suri tauladan bagi adik adiknya.
Menjaga adiknya, merawat dari bayi, melindungi, itu sifat dasar dari si sulung.
So, berbanggalah kalian sulung yang secara tidak langsung born to be a leader! 😀
Selain itu, menjadi sulung berarti juga bertanggung jawab akan kehidupan adik adiknya.
Tentunya setelah dewasa, kita juga dituntut secara tidak langsung untuk bisa membantu orang tua; spesifiknya membantu pendidikan dan penghidupan adik adik.
Dari mulai mengajarkan adik tentang pelajaran sekolah, sampai syukur syukur bisa bantu menyekolahkan adik adik.
Dengan beban tersebut, mau gak mau akhirnya kita di didik untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab, serta mental kita telah dilatih sedemikian sehingga kita 1 step lebih siap dan tahu cara menjadi orang tua.
Semoga kami para sulung bisa mewujudkan cita cita kami ke keluarga. Amin.
Semangat ya para sulung!

P.S.: minimnya perhatian orang tua ke adik, kadang juga membuat sulung dianggap sudah bisa mengurus dirinya sendiri.
Padahal, sering kali kami membutuhkan perhatianmu juga, Ma, Pa.
But yes, we’re also trained to be an independent person.
(Pesan dari seorang sulung, yang makin kesini makin gak keurus, dan butuh pendamping hidup.)
No, it is not me. But someone I know well :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s