Semua Ada Hikmahnya. (Really?)

Sebenarnya, saya bingung mau tulis apa.
Klasik ya, seorang penulis bingung mau tulis apa.
These two weeks were like bomb.
Mendadak saya harus mengetahui kenyataan, kalau keluarga saya MASIH lebih membutuhkan saya.
Saya harus pintar mengatur waktu, dan pastinya juga EGO.
Saya sudah sepenuhnya sadar, kalau manusia itu sejatinya hanya bisa merencanakan.
Apapun itu, Allah SWT yang mengatur; apakah rencana kita berjalan atau gugur.
Kecewa karena rencana gagal, sudah biasa.
Sudah banyak.
Dari yang awalnya sebel, menggerutu, sedih, galau, bertanya-tanya.
Kenapa sih kok rencananya gagal? Apa sebab? Apa salah?
Sampai lama lama akhirnya mengerti; bahwa pepatah klasik  semua ada hikmahnya itu ya memang begitu.
Allah SWT (saya seorang muslim), itu bener bener menunjukkan.
If it is not meant for you, then it is not.
Apa yang memang bukan takdirmu, ya gak bakalan kejadian; mau sampe njengking njengkang pun, itu gak akan kejadian.
Terus?
Itu ada hikmahnya, atau mungkin gampangnya adalah: ada penggantinya, ada masanya.
Kalau saya relasikan dengan kehidupan pribadi saya, ya banyak banget contohnya.
Seingat saya:
1. Saat lulus SD dan mencari SMP, mama saya termasuk yang sangat ngotot supaya saya bisa masuk ke SMP Labs. Berbagai cara sudah ditempuh, seleksi administrasi, seleksi tertulis, wawancara, tapi nyatanya perjuangan saya terhenti dengan menjadi cadangan siswa.
Takdirnya saya SMP di BanSal, di Bekasi.
Hikmahnya?
Saya masih bersekolah hitungan dekat dari rumah, ada sarana antar-jemput yang sangat aman, nyaman, dan friendly, dan mudah bagi saya untuk keluar dari SMP itu, ketika takdir saya selanjutnya berkata bahwa saya harus pindah ke Bumiayu pada saat kelas 2 SMP.
Coba kalau saya masuk ke Labs, berangkat jam berapa Bekasi – Rawamangun?
Siapa yang antar-jemput?
Gimana kalau harus pindah sekolah? =)
2. Saat perjuangan mencari ‘sekolah’ lainnya, tepatnya lulus SMA, saya merupakan salah satu siswa yang digadang-gadang ‘gampang’ masuk Universitas idaman, apalagi jurusan idaman.
Nyatanya, saya sampai harus melalui 5 tes masuk perguruan tinggi, sampai akhirnya saya dapat kampus.
Saya juga termasuk yang belum dapat kampus, 2 bulan sebelum awal semester dimulai.
Saya sampai bertanya-tanya, apa salah saya sih ya?
Dan dari awal rencana saya pengen kuliah di Semarang, nyatanya di Yogyakarta.
Hikmahnya?
Ya, dulu sih pengen kuliah di Semarang karena ngikut mas yang sekarang sudah jadi mantan 😛
Coba kalau dulu jadi di Semarang, nyesel kan karena udah jadi mantan? 😀
Di Yogyakarta, malah ketemu mas pacar 😛
Dan ternyata, nyamannya saya ada di Yogyakarta 🙂
3. Lepas kuliah, perjuangan mencari kerjaan juga menjadi salah satu yang dilematis.
Bener kata si Doel, nganggur dengan gelar itu sangat tidak enak.
Nganggur 6 bulan, kuping panas, muka merah, hati mau meledak.
Nyebar CV udah kaya nyebar leaflet diskon supermarket.
Gak idealis kok, sampai pasrah lah, jadi apa aja mau, yang penting gak bebanin orang tua.
Setelah minta restu ke orang tua, sampe ada drama nangis nangis segala, langsung masuk semua deh panggilan kerjaan.
Hikmahnya?
Di 6 bulan itu Alhamdulillah bisa ndampingin orang tua dan adik.
Selama 3 tahun jarang pulang ke rumah dalam waktu lama, terbayar semua.
It’s priceless, you know.
Jadi, setelah banyak peristiwa nyata yang membuktikan bahwa rencana Allah SWT itu lebih indah daripada pahitnya kekecewaan yang kamu alami atas gagalnya rencanamu, masih mau menyalahkan takdir?
(itu panjang amat sih kalimatnya di atas) 😀
Keep your chin up, Annisa!
Advertisements

One thought on “Semua Ada Hikmahnya. (Really?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s