Denial Mechanism

At this point, I have just realized that all this time, I deny myself for being an entrepreneur.

Self defense is a very new phrase for me, after my human resource supervisor at office explain me what self defense is.
Cara gampangnya, adalah ketika kamu terpojok akan suatu hal, kita akan cenderung menyelamatkan diri kita sendiri.
Entah itu berargumen sekuat mungkin, nyari bukti kalau kita gak salah, sampe tau tau nyalahin orang lain.

It’s a natural thing. It comes from very deep inside every human personality.
It is okay; as long as you could use it in a proper time and place.

Kasusnya, saya lahir dari keluarga yang 50% pengusaha, and the rest is karyawan; both swasta dan negri.
Keluarga papa adalah majority entrepreneurs.
Mbah, pakde, bude, om, bulik, mbak mas, hampir semua pengusaha.
Either they develop usaha turun temurun, atau buka peluang baru.

Dan saya, dapat modal bagus.
Bukan uang, tapi karakter.
Sifat saya yang cerewet, kepo, dan seneng banget ngobrol ini, sebenernya mendukung banget kalau saya mau jadi entrepreneur.

Some people said saya bisa menenangkan ketika lagi ngobrol bareng.
While others said I am such a persuasive person.

Dan lagi beruntungnya saya yang ditemukan bakat cerewetnya itu, oleh pak Komisaris.
Itu juga kenapa saya akhirnya jadi marketing export; instead of human resources staff that I applied before.

Dari hal tersebut, teman teman saya termasuk utamanya papa, gak berhenti meminta saya mencoba bisnis.
Dari mulai bisnis sewa komik dan novel yang saya punya banyak, sampai jualan pulsa.

Papa percaya saya bisa, tapi saya gak pernah mau.
Alasannya, saya merasa saya ‘gak ada keturunan untuk berbisnis; gak punya bakat.’

Dua puluh tiga tahun lebih sebelas bulan ini, saya baru menyadari:

“selama ini saya cuma denial, dan itu bentuk perlawanan dari dalam diri saya alias penolakan halus atas tawaran yang datang.”
Intinya, saya tuh sebenernya cuma gak mau aja, tapi banyak bacot dan banyak alasan.

Saya sadar, ternyata tentang menjadi seorang entrepreneur gak perlu garis keturunan.
Gak perlu sekolah khusus bisnis.
Gak perlu punya ide yang sangat brilian.
Tapi cuma perlu kemauan.
Elo-nya mau gak?

Gitu aja kok susah sih.

Karena ketika elo mau, pada akhirnya kamu malah mengetahui lebih banyak tips & trik berbisnis daripada yang orang dapatkan dari sekolah bisnis.
Ide akan semakin bermunculan.
Modal akan datang.

Dan ketika elo mulai menekuni apa yang elo sukai, disitulah benih kesuksesan tumbuh.

So, stop deny what you don’t want to do!
Admit that you don’t like and don’t want, and start loving what you like to do!

_a very note to myself, Annisa_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s