Friend in Quarter Life Crisis

Topik tentang teman dan pertemanan belakangan ini nyangkut di ingatan saya.

Dulu, saya dengan bangganya mengenalkan teman-teman saya yang jumlahnya banyaaaaakkkk sekali.
Dari tetangga jaman balita, sampai teman kos kuliah, kalau dihitung dan disebutkan, mungkin bakal menghabiskan jatah undangan  manten 50% sendiri. (Eh lha kok ngomongin undangan manten?) 😛

Sekarang, ngomongin temen, mungkin gak bakal habis 2 jari tangan saya menghitungnya.

Why so? How could this happen in me?

A friend of mine lately beautifully describe to me about how normal it is decreasing your friends.
Jadi makin tambah umur, makin berkurang teman.

So that’s normal.
Gue lega, tapi juga khawatir.

Siapa sih yang gak pengen punya temen banyak?
Ada yang bisa dihubungin setiap saat, didatengin rumahnya tanpa sungkan, dipinjemin pundaknya saat sedih, atau minimal didengerin ceritanya kapanpun.

I once had a very beautiful memory about friends that gone after I had a boyfriend.
Kalau ingatan gue gak salah, selama punya pacar pertama dan kedua saat SMA, alhamdulillah gak ada temen gue yang menjauh.
Tapi ketika sama pacar terakhir ini, frankly speaking I lost my friends.
Sampai di titik dimana gue dan pacar membuat kesimpulan; mereka yang pergi dari hidup kita jangan disedihkan.
Gue sama pacar tetep bisa jadi teman satu sama lain.
Sampai gue gak tau mau cerita ke siapa saat lagi benar benar down.

Sampai saat ini, yang selalu bisa setiap saat ada ketika dihubungi, less than 5 person.

Dan kemaren kemaren, nanya ke 5 orang yang masih bisa dihubungin itu, whether they had the same issue about friendship like me, and the answer is yes.

A friend finally told me: “welcome in a quarter life crisis”

Ada juga, sahabat saya yang bilang, “gue sih mending gak banyak2 punya temen. Seringnya mereka gak bikin benefit, tapi ngerempongin.”
Mungkin dia pernah punya very bad experience kali ya..

Tapi tentang ‘temen’ yang akhirnya jadi lawan, menarik untuk dijabarkan.
No, gue belom pernah pacaran atau ngembat mantannya temen gue.
Atau kebalikannya.

Mulai kuliah, fenomena ‘nge-geng’ makin marak.
The gauls, the cupus, the smartass, the badass, dll.
Cape sih sebenernya, karena udah gak jamannya lagi nge-geng macam itu.
Yang paling nyebelin, apalagi kalau bukan pepatah kuno ini:

“Gak ada lo, yang diomongin elo.”

Kalau saya, banyakan ngalamin temen jadi lawan dari kasus ini.
Lagi kumpul, biasanya 4 orang, yang 1 gak berangkat, ya yang itu yang dijadikan bahan obrolan.
Kuliahnya lah, tingkahnya lah, keluarganya lah, dll.

Butuh waktu cukup lama untuk saya sampai akhirnya menyadari bahwa yang seperti itu gak ada layaknya dijadikan teman.

Mungkin, pengalaman pahit itu yang membuat akhirnya hanya kurang dari 5 teman saya yang selalu ada dan tahu keadaan saya.

Advertisements

One thought on “Friend in Quarter Life Crisis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s