Ter-Pancing

Disclaimer: Post dan tulisan saya di bawah ini tidak bermaksud untuk menyebarkan isu SARA, ataupun menyudutkan pihak agama manapun. Jika kalian termasuk orang yang sensitif dalam hal agama, lebih baik jangan baca lagi, skip ke postingan saya yang lain, atau immidiately exit without permit is very OK.
I always open for any suggestions or critics, you can just talk to me whatever you feel after read this post.
Saya mohon maaf sebelumnya, apabila ternyata kalian ada yang tersinggung dari postingan ini, dan saya berterima kasih sebesarnya kepada pihak yang secara langsung maupun tidak, telah membantu saya menyusun postingan ini.
Satu hal lagi.
Saya belum pernah mendapatkan pelajaran statistik, atau menyelenggarakan survey & riset kredibel, saya mewawancarai secara langsung dan via percakapan di aplikasi chatting kepada responden yang ada. So, yeah. Maaf kalau kurang kredibel ya? 🙂
Enough for the disclaimers, here it goes…..
Sebenernya, saya mau buat post yang Ramadhan theme, tapi lama lama saya malah kepancing ikutan tren masyarakat Indonesia yang sempet heboh memaknai toleransi antar umat beragama.

As we all know, Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika.
Kita terlahir memang dari sononya beragam, ragamnya lebih kompleks dari benua Amerika yang jumlah negara bagiannya lebih banyak dibanding jumlah provinsi kita.

Dari saya kelas 1 SD dan pelajaran PPKN, sudah khatam namanya menghormati dan menghargai umat agama lain adalah sifat terpuji.
Dan saya benar benar take that personally.

Kawan saya beragam, dari Aceh sampai Makassar (belum punya teman dari Papua).
Saya selalu penasaran dengan budaya yang dibawa teman teman saya, kepo.
Termasuk ajaran agamanya.

Tanya ke teman saya yang beragama Hindu, Buddha, Katolik, dan Kristen; se-kepo apakah saya terhadap ajaran mereka?
The answer will be 4 in scale 1-5.

Bahkan, sampai kepo maksimal saya, pernah saya menginap di rumah kawan yang beragama hindu, dan mengikuti kemana dia beribadah.
Merekam aktivitas mereka dalam memori pikiran saya.

Saya menganggap, saya merupakan salah satu generasi muda yang sudah khatam bab toleransi umat beragama, karena pelajaran itu udah berkali kali diulang.

Saya juga lahir dari keluarga yang modern dan demokratis, dimana kami tidak pernah mempermasalahkan hal hal seperti, mengucapkan selamat hari raya bagi agama lain, ikut membantu teman yang berbeda agama dalam menyiapkan acara ibadahnya, dan lainnya.

Oke, back to present.
Kemarin, Indonesia sempat dihebohkan dengan beberapa aksi yang diklaim sebagai kasus dengan topik, ‘katanya toleransi’.
Saya gak mau bicara banyak tentang ini, tapi iseng iseng saya sudah melakukan survey dari 9 responden (lah cuma 9, ya maap, namanya juga survey kecil-kecilan), menanyakan tentang hal hal yang terkait dengan Ramadhan dan toleransinya.
9 responden ini merupakan guru, sahabat, rekan kerja saya; identitas detail mereka tidak saya sebutkan, saya hanya menyimpulkan dari jawaban mereka, dan beberapa kali saya menyebutkan nama mereka dengan menggunakan inisial.
1. Hal apa yang paling kalian rindukan di bulan Ramadhan?
Mayoritas dari responden menjawab acara buka puasa bersama dan silaturahmi saat lebaran adalah momen yang paling mereka rindukan.
Sisanya, menjawab takjil, berburu makanan sore hari, dan jam bekerja yang lebih cepat. (ketauan pengen buru buru pulang kantor) LOL
“Kalau bulan Ramadhan itu, suasananya beda. Saat sahur juga ramai, dan jam 5 sore, kita bisa berburu makanan enak!”, J – Karyawan Swasta
2. Kalau mendengar kata Ramadhan, apa hal pertama yang terlintas di pikiranmu?
80% responden menjawab ‘Puasa, Fitrah, dan Ibadah’
20% lainnya menjawab lagu islami dan bersiap lebaran.
“Langsung deh pengen nyanyi lagunya Opick yang liriknya Ramadhan tiba.. Ramadhan tiba… :D”, A – Dokter Gigi
3. Apakah ada perbedaan signifikan saat bulan Ramadhan dibanding dengan bulan yang lain?
90% responden menganggap tidak ada perbedaan yang mencolok, sementara 10% lainnya merasakan perbedaan dari faktor keramaian jalan saat menjelang buka puasa, dan sepinya warung makan di siang hari.
4. Opini tentang toleransi di bulan Ramadhan?
Saya pernah mendengar seorang pakar di TV (saya lupa namanya) pernah bilang kalau sebenarnya masyarakat Indonesia itu tingkat toleransinya tinggi. Hanya saja, beberapa yang tingkat toleransinya rendah, biasanya lebih besar omongnya.
100% dari responden menganggap toleransi di bulan Ramadhan di Indonesia sudah baik.
“Setiap agama pasti mengajarkan tentang hal yang baik, termasuk toleransi terhadap umat agama lain.”, M – Mahasiswa S2.
“Seperti hal lain, akan selalu ada outliers (sesuatu yang berbeda dari mereka pada umumnya). Akan ada yang toleransi, ada yang tidak.”, E – Dosen.
5. Apa harapan kamu tentang isu yang berkembang terkait sikap toleransi di Indonesia? (Terutama pasca kejadian yang viral di media)
Seiya sekata, semua responden berharap semoga toleransi tidak hanya berlangsung pada bulan Ramadhan/hari raya tertentu, masyarakat semakin cerdas dan selalu damai.
“Jangan sampai urusan vertikal buat gaduh urusan horizontal.”, D – Dokter Muda.
Yep, that was the result of my very little survey.
Saya puas dan senang, mengetahui saya dikelilingi orang dan teman yang masih sangat open-minded membicarakan hal seperti ini.
Semoga saya dijauhkan dari orang yang berpikir dangkal dan tidak mengerti makna toleransi sesungguhnya.
Dan saya harap, semoga little survey saya bisa membuat kalian lebih positive thinking dengan sesama 🙂
Kalau kamu, seperti apa pandangannya?
N.B.:
Have I told you that all my respondents are not Muslim? :))
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s