Lebaran Dalam Kesederhanaan

Klise.
Judulnya ..

Tapi klise-klise gini, dua puluh empat tahun di bumi tercinta ini, baru malam ini memaknai frasa ini.
(ada berapa kata ini yang saya ucapkan?)

Alhamdulillah, Ramadhan 1437 H resmi dilalui.
Kilas balik Ramadhan tahun ini, makin bisa memaknai toleransi, berbagi, dan merasakan ‘rumah’.
To be honest, banyak sekali ujian dan cobaan yang datang di Ramadhan tahun ini; semoga dengan masih bertahannya saya di Syawal ini, menandakan apa yang sudah saya lalui kemarin, berkah dan bermanfaat.

Makin kesini, makin sadar.
Ujian, godaan, dan cobaan di bulan Ramadhan, atau pada saat berpuasa bukanlah lagi godaan karena iklan sirup, warung yang buka siang hari, ataupun anak kecil yang makan es krim di bawah teriknya matahari.

Yang terjadi saat ini, jauh melampaui godaan yang tak seberapa itu.

Sekedar nafsu lapar, haus, dan emosi, pasti ada.
Namun sudah terlatih untuk menghadapinya.

Yang saya rasakan, sungguh kemarin melawan godaan iman dari dalam diri sendiri yang teramat berat.

Kemarin, dengan banyaknya ujian dari luar, membuat pribadi saya mengalami godaan dalam diri sendiri.

Melihat teman-teman bisa berbuka puasa di luar rumah, berkumpul bersama yang lain, membuat saya iri.
Saya, yang akhirnya memutuskan untuk ‘merantaukan keluarga’, sungguh harus dihadapkan pada kenyataan, “saya tidak akan pernah ikut berkumpul di bulan Ramadhan bersama mereka”.
Hati saya sakit, saya sedih.
Saya iri.

Melihat teman-teman bisa membeli ini-itu dari uang mereka sendiri (baca: THR, gaji ke 13, 14, dst.), membuat saya sedih.
Alhamdulillah, saya juga bisa merasakan indahnya mendapatkan 2X amplop dalam satu bulan kemarin.
Tapi, sungguh langkah yang heroik ketika saya mengikhlaskan isi dalam amplop itu pergi untuk mengurangi tanggungan saya.
Yes, I paid my bills with that.
Saya sedih, saya iri.

Momen mudik juga tak ubahnya membuat saya sedih.
16 tahun saya merasakan mudik, dan saat ini sudah tidak pernah merasakan lagi, saya merasakan ada kehampaan di hari-hari penutup Ramadhan.

Malam ini, seiring dengan takbir pertama yang saya dengar, air mata saya menetes pertama kalinya di bulan Syawal ini.
Saya malu.

Saya malu harus iri dengan teman-teman yang sering kumpul; padahal saya hampir setiap hari merasakan berbuka puasa dengan masakan dari mama.

Saya malu harus iri dengan teman-teman yang membeli barang dengan uang THR mereka; padahal saya sangat lega tidak punya tanggungan bills.

Saya malu harus iri dengan orang-orang yang mudik; padahal saya tidak harus ‘bermacet-macet’ untuk bertemu dengan mama&papa setiap harinya.

Kenapa hati saya harus merasakan itu semua?
Sedangkal itukah pikiran saya?
Sesempit itukah makna bahagia untuk saya?

Saya sadar dengan godaan terbesar Ramadhan saya, yang sebenarnya dari dalam hati saya sendiri, sebenarnya Allah SWT mengajarkan makna ‘kesederhanaan’.

Termasuk ketika akhirnya saya sadar meng-explore ‘kesederhanaan’, menjadi ‘Lebaran Dalam Kesederhanaan’.

Apa sih yang kita cari dari lebaran?
Baju baru?
Kue kering?
Mudik?

Seriously?

Ketika orang tanya ke saya, “gak beli baju baru?”
I simply answer, “beli baju baru gak kudu pas momen lebaran kan?”
Because, like udah 9 tahun belakangan, gak beli baju baru pas lebaran.
Males, mall rame.
Duit yang ada, cepet habis.
Jalanan macet.
Koleksi bajunya juga bisa jadi kembaran sama banyak orang.
Terakhir, ingat prinsip, ‘beli karena butuh; bukan karena ingin’.

Soal kue kering, kebetulan juga bukan adat utama keluarga saya.
Dulu pas masih SD, nyokap masih getol bikin kue sendiri.
Makin kesini, yang dihebohin adalah masak opor dan teman-temannya.
But to be honest, emang kue-kue tersebut, enaknya dinikmati saat berkunjung sih πŸ˜€
Kalau ada yang ke rumah saya, ya jamuannya nasi opor ya πŸ˜›

Dan well, oh mudik.
Random ide saya, kalau sampai nanti saatnya saya berkeluarga, dan insyaAllah tidak ada tradisi mudik (karena tinggal 1 provinsi dengan keluarga), asyik kali ya kalau lebaran hari kedua traveling abroad se-keluarga? πŸ˜‰
Atau jika memang tinggal jauh dengan keluarga, pengennya adalah memanjakan keluarga dengan ‘membalik’ tradisi mudik, alias keluarga yang dibelikan tiket ke kota?
Because yeah, home is where the heart is, not only the place πŸ™‚

 

Jadi, sudah siap lebaran dalam kesederhanaan?
Note: Berikut adalah foto Pasca-Lebaran saya dan keluarga. Numpang narsis lah ya sekali-kali πŸ˜›

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s