The Commitment

Wiih, grande amat judulnya.
Ngeri..

 

(Knapa di awal posting gue selalu mengomentari judul sih)

Tentang komitmen ini, random thought after menghadiri acara tutup tahun play group anaknya supervisor.
Lah!
Iya, gue disuruh random dateng aja, sekalian jemput anaknya sih.
Hahaha

Melihat keceriaan anak-anak, buat gue mikir.
Lucu banget ya anak-anak itu, jaman-jaman aktif-aktifnya.
(Damn the repetition)

They are really adorable.

But,

It need full commitment of a pair.

Well, I look back in my case on my way back to office.
It needs a commitment of being a child.
A full time child.
Menjadi anak yang berjuang agar bisa dibanggakan orang tua.
Tentunya, dengan berkomitmen, kita harus siap dengan segala konsekuensinya.
Ketika tidak sesuai dengan ajaran orang tua, kita dimarahi.
Ketika kita harus mengorbankan apa yang telah menjadi keinginan/mimpi kita untuk mereka.

Then, when you meet your partner to be.
Both of you are commited to be together.
Berkomitmen untuk mengurangi waktu, meluangkan untuk bertemu, atau sekedar berkomunikasi.
Berkorban menyisihkan dana dari uang jajan masing-masing, untuk dana jalan atau nonton film.
Berusaha untuk saling mengerti dan melengkapi sifat masing-masing, bukan menyamakan.

Then both of you finally commited to be together forever.
This is permanent, kalian berkorban untuk selalu pulang rumah dan makan malam bersama.
Menyisihkan gaji untuk menabung demi rumah, ataupun anak di kemudian hari.
Yang biasanya habis gajian bisa langsung belanja kebutuhannya tanpa pikir panjang, sekarang habis gajian harus diskusi dulu mau beli apa aja.
Yang biasanya balik kantor diajak jalan sama temen kantor dan langsung ng-iya-in, sekarang telepon pasangan dulu untuk minta excuse.
Yang tadinya weekend bisa bangun siang dan nge-mall dengan bebasnya, sekarang tetap bangun pagi dan sesekali menghadiri acara keluarga.

Sampailah kalian ke posisi komitmen selanjutnya.
Having and raising a child.
Gue sih belom tau kaya apa rasanya, but if I could only imagine it, it must be rrrreeeallly awwwssoome!
But again, dibalik segala euforia itu, you will still have your commitment and consequence from it.
Yang biasanya mau belanja kebutuhan tinggal koordinasi sama pasangan, sekarang kudu mikir udah ada dana buat beli susu? Popok? Kebutuhan anak?
Yang biasanya masih dikasih izin pasangan untuk pergi sama teman-teman, sekarang kudu sadar diri kalau udah ada yang lebih nungguin di rumah, mungkin masih bisa pergi tapi bawa anak?
Yang tadinya asyik main gadget sendiri kalau di rumah, sudah seharusnya ganti perhatiannya untuk anak?
Yang biasanya susah ngerem emosi, masa mau dikenal sebagai orang tua yang galak?
Dan sekian banyak ke-ego-an kita yang kudu dikesampingkan untuk anak.

It is not easy, bruh.

And having a commitment is really a thing.
When you commit for a thing, the consequences follows after you.

Tapi ya jangan jadi takut untuk berkomitmen juga ya, masa iya lu mau jadi amoeba?

Note: gak ada amoeba yang terluka karena omongan saya ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s