“kamu berani?”

semangat banget saya nulis ini sekarang juga, setelah beberapa hari bingung mau nulis apa.

well, ini terilhami dari curhatan teman.

let’s begin….

jadi, teman saya itu dalam posisi kritis. she knew something doesn’t right in her office, she knew that her director is hiding something from the big boss.

namanya manusia ya, ketika dalam posisi itu, hal yang pertama diceritakan adalah dia risau. galau.

she really could tell to her big boss about what happen, but she is in a big doubt.

saya bilang ke dia berkali-kali,

berani karena benar, takut karena salah

dia tahu persis, dia benar, tapi dia tidak berani.

saya tanya kenapa, apakah dia takut akan jabatannya dicopot begitu saja? rasa-rasanya tak masalah jika ia keluar kantor, karena dia punya sebuah bisnis yang sukses.

ternyata dia takut nama baiknya tercemar, hanya karena mengadu.

well, itu urusan lain. saya tidak bisa mengintervensi hal tersebut.

seminggu berselang, dia kembali curhat tentang betapa ‘gregetan‘ dia tentang kelakuan direkturnya yang semakin menjadi.

saya juga yang jadi gatel, sebenernya dia berani gak sih? atau, kalau memang gak mau nama baiknya tercemar, yasudah ajak teman-teman kantornya juga untuk mengadu. they have rights, right?

singkat dia jawab, teman-temannya tidak berani.

I spontaneously remember this.

*sigh* “Orang Indonesia ini ya, banyakan takutnya. pantes aja…”

saya ingat sekali, sekitar 9 tahun yang lalu, saat saya jadi anak pindahan, SMP kelas 3. hampir 1 kelas teman-teman saya, bertanya 1 hal yang sama ketika saya dengan biasanya, pergi ke koperasi sekolah di jam istirahat, sendirian.

“Kamu berani?”

beberapa dari kalian pasti punya pemikiran yang sama dengan saya.

“Lha, emang kenapa? Apa yang salah dari ke koperasi di jam istirahat?”

“Tapi, kamu kan sendirian…”

saya membatin, emang apakah bapak yang jaga koperasi itu pedofil? atau galak? atau di jalan ke koperasi itu, bakal ada banyak binatang buas, atau gimana ya….

I found nothing is wrong by went there alone.

saya cuek dengan teman-teman saya, dan lihat apa yang terjadi.

turns out that nothing happen except saya yang akhirnya jajan banyak di koperasi.

later on, setelah saya tanya teman-teman, kenapa mereka bertanya seperti tadi ke saya, ternyata adalah, karena sangat tidak lazim untuk jajan sendirian di daerah tempat saya bersekolah.

bukan karena alasan keamanan, tapi asing aja saat jajan sendiri. but I think it’s the rubbish thing! seriously, gak ada yang perlu ditakuti dari hal remeh macam itu.

back to topic, selain hal tersebut, agaknya saya menemukan banyak ‘ketakutan’ yang tidak beralasan yang sering dijadikan tameng atau alasan untuk tidak melakukan sesuatu.

seperti, takut ke luar kota atau luar negeri sendiri, saat single traveler lagi ngetren.

takut untuk bertanya di setiap kegiatan belajar mengajar, karena biasanya dibully atau dianggap tidak cepat mengerti, atau malah memperlama jam belajar.

takut untuk bilang tidak, ketika dipaksa mengerjakan sesuatu yang bukan menjadi tanggungjawabmu.

termasuk, takut untuk angkat suara dari hal yang kamu tahu, it is not right at all.

come on, ini sudah beberapa hari terakhir menuju tahun 2017 (well, masih sekitar 30 hari sih…), tapi apa iya, masih pantas kita merasa takut akan hal hal remeh yang tidak pantas kita takuti?

speaking of the result, misal akhirnya menyuarakan kebenaran, lantas kita malah tertindas…

well, percaya deh. Tuhan menyukai kejujuran, kan?

dan Tuhan, pasti punya rencana lain untukmu, gak peduli betapa kerasnya kamu menjalani kehidupan sekarang, dan gak peduli betapa tertindasnya kamu ketika kamu melawan rasa takutmu.

so, mari berani! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s