expectation and friendship

beberapa hari yang lalu niat banget mau nonton salah satu film lokal yang, mmm… menurut saya produksinya oke banget.

ngamatin proses produksinya, nonton behind the scene-nya, nonton teaser trailernya, sampai akhirnya trailernya, makin lama makin bikin ngiler untuk nonton di bioskop.

jadwal penayangannya pun cantik banget. ngepasin sama liburan akhir tahun, promosinya gencar banget, bikin hampir semua orang akhirnya rela antre bejubel di bioskop.

saya nonton di hari penayangan ke 7, alhamdulillah dimudahkan pembelian tiket dll (ya iyalaah, hari gini masih ngantri di bioskop? beli online juga bisa 😛)

konsentrasi sih pas nonton, gadget udah dimatikan, tapi sampai film selesai, saya mungkin termasuk orang yang gagal paham&gak excited sama sekali.

“gitu doang nih? kok kurang greget ya?”

itu yang ada di pikiran saya sampai hari selanjutnya.

dalam pikiran saya menganalisa, kenapa film itu jauh dari harapan saya. kenapa saya lebih excited saat sebelum nonton filmnya langsung, tapi setelahnya… hasilnya nol.

  • apa memang filmnya terlalu heboh promosinya dll?
  • apa memang strategi marketingnya untuk membuat film itu terlihat seolah sangat menarik padahal tidak?
  • atau ada yang salah di diri saya sehingga saya tidak puas?

lately di hari berikutnya, sore hari saat saya sedang dalam perjalanan dari kantor menuju rumah, akhirnya saya sadar suatu hal:

I put too high expectation before I watched that movie.

ya, saya baru sadar saya memasang ‘standar’ yang tinggi terhadap film itu. bukan salah promosinya, produksinya, proses marketingnya, bukan…

salah saya yang berharap lebih, setelah nonton serangkaian proses dan promosinya.

mungkin, kalau standar saya saat menonton diturunkan, hasilnya saya puas dengan film itu.

well, ekspektasi tinggi gini, bukan cuma saya alami kemarin2. tapi juga beberapa kali sebelumnya, dalam hal lain, saya kerap memasang ekspektasi tinggi akan suatu hal, sampai akhirnya saya kecewa dan sadar kalau saya kebanyakan mengkhayal.

saya banyak ber-Long Distance Relationship dengan sahabat saya.

sebut saja Milly, sahabat TK-SD saya, yang sejak tahun 2000 sudah LDR dengan saya.

yang tadinya selalu menjadi tempat curhat saat galau, sampai akhirnya jadi tempat saling ucap ulang tahun&hari raya pada hari-hari tertentu yang mungkin 1 tahun hanya bertegur sapa 2 kali.

ketika Milly mengabarkan akan liburan di Jogja, saya berekspektasi tinggi. kami bisa berjalan-jalan kemanapun dengan bahagianya, seperti gambaran sahabat yang ada di film-film.

realisasinya, memang kami bisa berjalan-jalan bahagia, namun kami juga sama-sama gak bisa menyembunyikan rasa canggung kami yang sudah 3 tahun tidak bertemu.

keterangan foto diatas: Milly&me Maret 2016, dia sempat merayakan ultahnya disini! :*

kemudian, siapa lagi kalau bukan keluarga kecil saya, Power Rangers.

kalau ingat tentang mereka, rasanya pengen kumpul lagi dan lagi. kami ber-7, dengan sifat, watak, kelakuan, kebiasaan, selera yang berbeda.

SMA, mungkin sangat mudah bagi kami untuk pergi bersama. kuliah, kami selalu bisa dipertemukan bersama setiap Idul Fitri. juga acara saling kunjung mengunjungi, saat salah satu dari kami akhirnya wisuda dan mendapatkan tambahan gelar di belakang namanya.

tapi menginjak masa-masa kerja…

rasanya untuk hanya bertegur sapa di grup whatsApp kami pun sulit. berangkat pagi pulang sore menjelang malam, pikiran tentang kerjaan, orang tua kami yang semakin menua, kehidupan sehari-hari yang merantau, pasangan yang harus dibahagiakan, rasanya sudah cukup penuh pikiran kita untuk ditambahkan pikiran lain.

lagi-lagi, saya berekspektasi tinggi dengan mereka. membayangkan genk AADC, yang awet dan sweet sedari SMA, membuat saya berharap banyak dengan Rangers ini.

kenyataannya, tak semudah itu mempertahankan pertemanan banyak orang dan jangka panjang, apalagi jika jarak memisahkan.

saat ini, keberadaan Rangers menyebar dari Jabodetabek, Purwokerto, Bumiayu, dan Yogyakarta.

sempat saya merasa, apakah benar mereka masih menghargai pertemanan? seperti apa mereka sekarang? peduli seperti dulu? asyik dan gila seperti dulu? atau sudah penuh dengan kesibukan masing-masing?

semua mendadak terjawab sekitar 1 bulan yang lalu, saat salah satu Rangers menggelar acara ngunduh mantu pernikahannya.

ini pernikahan pertama di Rangers, kami berharap satu sama lain agar semua bisa datang.

Alhamdulillah, semua datang.

dengan cerita masing-masing, dengan perubahan masing-masing.

keterangan gambar-gambar di atas: kondangan pertama kami bersama, pertemuan perdana kami setelah bekerja, pertemuan perdana kami ber-7 dengan umur menjelang 25 tahun.

apakah kali ini ekspektasi saya ketinggian lagi?

beberapa, ya. saya meluangkan waktu saya 1 weekend full dengan mereka, tetapi rasanya tetap kurang. saya belum puas menghabiskan waktu dengan mereka, banyak lagi cerita yang ingin saya gali dari mereka; satu per satu.

belum lagi, saya kaget menyadari ternyata kami masing-masing berubah.

berubah ke arah yang lebih baik, tentunya.

bayangan saya akan kumpulnya asyiknya serunya genk AADC, runtuh ketika menyadari kumpulnya Rangers ternyata tak se-seru itu.

akan tetapi, pertanyaan saya akhirnya terjawab. mereka masih care satu sama lain, mereka masih menghargai pertemanan, mereka intinya masih menjadi manusia yang sama, seperti terakhir kami bertemu.

bahkan, hal baiknya karena saya teringat, saat ini perlahan anggota keluarga kami bertambah. pasangan kami yang akhirnya mau-tak-mau harus mengerti tentang ke-gilaan kami semua, dan saya akhirnya bisa tersenyum puas karena ini baru pernikahan Rangers pertama kami! masih ada 6 pernikahan lagi yang siap kami sambut bersama, seperti apapun keadaanya.

sahabat saya satu ini, mas Nif, juga tak terasa kami sudah sekian lama ber-LDR.

dengannyalah, saya tidak mau berekspektasi banyak. karena saya yakin, saat kami bertemu, kegilaannya sama dengan betapa gilanya obrolan kami di whatsApp.

kalaupun saya sudah memasang ekspektasi tinggi kepadanya dan nyatanya tidak setinggi itu, setidaknya dengan dia saya berani bilang langsung. he’s my trash bin, anyway. HA!

keterangan gambar diatas: (kiri) gilanya kami berdua saat kuliah, (tengah) saat kami ketemuan di Jakarta, dia jarang mau diajak selfie, (kanan) kami ketemuan lagi, kali ini plus si mas patjar yang ke Jakarta juga.

mas Nif ini juga yang banyak nasihatin saya tentang pertemanan. yang kalau gak salah saya pernah share, disini.

teman-teman yang saya pernah ekspektasikan tinggi namun hasilnya biasa saja, beberapa ‘sisa’ teman dari kuliah yang masih lebih sering dan intens untuk berkomunikasi.

been with ups and downs with them, dari mulai galaunya masa transisi SMA ke kuliah, sampai galaunya belum kunjung lulus dan bekerja.

they’re really powerful and tough woman, seriously. photo_2017-01-02_14-27-03

terakhir ketemu mereka, sempat saya berekspektasi bisa asyik ngobrol lagi, saling bercerita apa yang akhir-akhir ini ada di kehidupan kami, tetapi, nyatanya, beberapa dari kami sibuk dengan gadget, dan beberapa lainnya sibuk bergosip teman-teman kuliah yang lain.

but this is real, saya belajar dari pertemanan ini untuk menjaga pertemanan saya yang lain, supaya gak lagi terjadi.

kami canggung, tapi itu semua butuh waktu. kami gak berubah banyak, masih seperti kami yang dulu. kami berproses, untuk akhirnya menemukan jati diri kami. *tsahh

foto di samping atas itu, sebenarnya kurang 1 mahluk lagi, yang pada saat itu masih kejauhan merantaunya sampai negeri matahari terbit. semoga, kami bisa bertemu ber-5.

dan saya harus mengurangi kadar ekspektasi saya, seriously.

sahabat-sahabat saya terakhir ini, paling ajaib.

saya kerja di daerah Bantul, mereka juga rumahnya di daerah Bantul. kami cuma ber-3, tapi untuk bertemu, rasanya butuh satu atau dua purnama.

mereka wanita yang hebat, yang 1 sedang dalam proses menjadi dokter yang hebat, satu lagi, berhasil membuktikan bahwa LDR gak se-suck seperti apa yang saya tulis disini.

photo_2017-01-02_15-00-11awal kami ketemu adalah di kos, yang merupakan kos pertama kami satu sama lain. dan jika sebelumnya sahabat-sahabat saya selalu seumuran, kali ini saya momong adik-adik; ya, mereka 1 tahun lebih muda dibandingkan saya.

instead of membuat grup whatsApp rame-rame 1 angkatan kos, kami malah membuat private grup whatsApp. mungkin, mereka cucoknya dengan saya 😛 (mulai pede)

mereka yang sebenarnya sudah saling kenal dari SD, sampai kuliah, dan saya yang merupakan ‘stranger’ bagi mereka, ternyata tanpa saya sangka saya duga, jauh lebih dewasa dalam bertindak.

mereka hampir tidak pernah membicarakan hal yang memang saya tidak mengerti, mereka tahu cara membagi obrolan, dan yang paling saya banggakan, mereka sangat toleran. ditengah isu-isu sara yang kemarin merebak, mereka mampu membuktikan di depan mata saya, lepas dari semua atribut sara itu, kami sama.

kadang, ketika sebelum bertemu mereka, saya sempat berekspektasi banyak ke mereka juga. nyatanya, sebagai manusia dan wanita pada khususnya, kami ber-3 merupakan mood swinger sejati.

saya yakin, mereka yang banyak runtuh ekspektasinya ketika bertemu dengan saya yang makin kesini makin aneh dimata mereka.

well, ternyata saya makin ngalor ngidul cerita tentang ekspektasi ini.

analisa saya, yang menjadikan saya terbiasa pasang ekspektasi tinggi adalah, film, sinetron, buku, yang tidak langsung menyuntikkan stigma ke saya bahwa bersahabat harusnya seperti ini, idealnya begini, enaknya begitu, dan lainnya.

kenyataannya, keideal-an itu tidak ada.

kita yang memodifikasi, dari pikiran dan perbuatan kita, agar persahabatan itu ideal bagi kita.

jadi, apakah kamu sudah ikhlas dengan uniknya persahabatanmu, atau kamu masih banyak berharap lebih dengan pola persahabatanmu? yang kamu simpan sendiri tanpa membiarkan sahabatmu tahu? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s