Woman, read this!

Disclaimer: this post will somewhat either implicit or explicit unintentionally categorize and generalize specific gender.Kemarin-kemarin ikut geregetan baca thread beberapa tweeps di twitter.
Mostly, ladies.

A friend of mine, kakak angkatan di kampus dulu, hampir menjadi korban pelecehan yang menimpa dirinya dari abang ojek online.
Pakai jasanya, mau dianterin sampe kos, tapi kok sepanjang perjalanan mencurigakan nada bicaranya.
Untung dia sampe kos dengan selamat aman tanpa diapa-apain.

Ada salah satu warga twitter, yang memiliki kasus serupa, dan parahnya memang si abang ojek udah berbicara diluar konteks.
(Mengajak berhubungan intim, berbicara tentang ras, tentang kelamin wanita dan pria) seriously, wtf?
Akhirnya wanita tersebut minta diturunkan di tengah jalan, setengah lari ke rumahnya.
Masih untung gak diikuti atau dimata-matai.
Kasus itu langsung dilaporkan dan ditindaklanjuti.

Beberapa kasus pelecehan kepada wanita juga dilaporkan terjadi di moda transportasi.
Online maupun offline, ojek maupun taksi/kereta/bus.

Pun di thread terakhir yang saya simak, dan ini masuk kategori parah, karena sudah sampai ke action.
Seorang penumpang wanita KRL di Jakarta, mendapati dirinya dilecehkan oleh seorang pria tidak dikenal, dengan cara sang pria menggesekkan penisnya ke bagian belakang wanita tersebut.
Yes.
In a train.
On a standing position.
Asli bacanya aja bikin merinding.

Tapi tindakan wanita itu patut saya acungi 8 jempol (4 jempol tangan kaki saya, 4 lagi jempol mas pacar); karena dia langsung memukul si pria, dan langsung diamankan aparat.
Walaupun anehnya si pria gak mau ngaku, padahal penisnya masih ada di luar celana. Damn!

Merinding disko gak sih bacanya.. Bayanginnya..
Naudzubillahimindzaliik, semoga kita dijauhkan dari hal seperti itu.

Ih amit amit jabang bayi.

Well, saya sendiri mau cerita pengalaman saya.
Kalau diingat, saya pun sudah 2 (dua) kali mengalami pelecehan (ke arah) seksual.
Pertama di angkot, terakhir di bus.

Alhamdulillah saya gak sampai diapa-apain (at least gak sampai kaya cerita terakhir diatas), but the trauma? Don’t ask me.
Masih.

Kejadian pertama udah lama, waktu saya kelas 1 SMP di Bekasi.
Sekolah saya dulu terbilang cukup jauh dari rumah, sebenarnya saya naik antar-jemput dari sekolah, tapi kadang saya pulang sendiri karena ada ekskul/kegiatan.
Hari itu, saya pulang naik angkot sama beberapa teman-teman saya.
Kami naik angkot 2 kali (dari sekolah-terminal, dari terminal-rumah).
Berhubung badan saya bongsor, kelas 1 SMP saya juga terlihat lebih ‘dewasa’ dari teman-teman saya yang lain.
Kami ber-6 (semua perempuan) kalau saya belum lupa, dan kami lumayan memenuhi angkot siang itu.
Saya kebagian duduk di paling pojok, dekat kaca (ingatlah angkot mobil carry kecil).
Di depan saya, ada seorang laki-laki, umurnya sekitar 27 tahun, terlihat gelisah.
Awalnya saya gak menaruh kecurigaan apa-apa.
Sampai angkot berjalan, kurang lebih 300 meter, saya baru sadar.
Dia tiba-tiba mengeluarkan penisnya, dia tutupi dari orang disebelahnya, menggunakan koran yang ia bawa.
Spontan, hanya saya dan teman saya di sebelah yang bisa melihat dia melakukan itu.
Saya kaget, dan mencoba berpikir biasa saja. Mungkin dia memang sedang sakit dan perlu melakukan hal itu.
Tapi saya lihat mukanya, dia tidak terlihat seperti sedang sakit.
Tapi nafsu.
Langsung saya teriak, “bang berhenti bang! Saya mau turun!”
Padahal kami masih jauh dari terminal.
Teman-teman saya kaget, tapi saya minta mereka semua turun.
Sampai saya ceritakan semuanya ke mereka, kagetlah kami.
Dan ternyata teman sebelah saya juga melihat itu. Panik, kami menyetop angkot lainnya dan waswas.
Beruntung kami tidak diapa-apakan.

Saat itu, untuk beberapa hari, saya trauma naik angkot duduk di pojok.

Kejadian terakhir ini, masih membuat saya merinding kalau diingat.
Masih anget, tepatnya awal Desember kemarin.
Saya pulang ke Bumiayu, untuk datang ke acara pernikahan salah satu Rangers.
Seperti biasa, saya memang menyukai naik bus malam. Karena, sampai di Bumiayu pas subuh, dan saya gak merasakan perjalanannya karena di bus hanya tidur.
Saya berangkat sendiri, setelah pesan tiket siang harinya.
Ternyata saya duduk dekat jendela, bersebelahan dengan seorang bapak berumur 55 tahun-an.
Percakapan kami hanya sebatas:
Bapak-bapak (B): “Mau turun dimana?”
Saya (S): “Bumiayu, pak. Bapaknya?”
B: “Cirebon.”
S: “Oh..”

Karena mengantuk, saya langsung tidur begitu bus meninggalkan Yogyakarta.
Si bapak juga tidur.
Saya terbangun pertama di Rest Area, daerah Kebumen.
Saya memang pengen ke kamar mandi. Sementara si bapak sepertinya merokok di luar bus.
Bus berjalan lagi, saya tidur lagi.
Sampai Purwokerto, saya terbangun dan menyadari sesuatu yang aneh.

Tangan kanan bapak itu gak bisa diam.
Fyi, dia duduk sebelah kiri saya.
Tangannya aneh, dia tidur dengan melipat tangan.
Otomatis, tangannya ada yang mengenai lengan saya (karena bus selalu bergoncang melewati jalanan yang jelek sekali).
Saya gak masalah, tapi selain tangannya mengenai lengan saya, saya merasa jarinya seakan mengelus-elus lengan saya.
Fyi lagi, saya pakai kaos lengan panjang, pakai sweater tebal lengan panjang, dan pakai syal tebal. Tapi saya bisa merasakan itu.
Saya abaikan, mungkin karena dia sudah tua.

1 kilometer berlalu, tangan beliau ganti.
Kali ini tangannya ada diatas pahanya.
Tapi tetap, rasanya mengelus-elus paha saya. Saya pakai celana jeans.
Mulai gak nyaman, saya gak tidur. Toh kurang dari 2 jam lagi saya sudah sampai.

Lanjut di perjalanan, dia berganti-ganti posisi tangan dari lengan ke paha ke lengan ke paha lagi.
Saya mulai waswas. Saya alasi paha saya dengan menggunakan bantal yang diberikan dari bus.
Lengan saya balut menggunakan syal saya.
Saya tutupi badan pakai selimut dari bus.
Apa yang terjadi?
Kali ini lengannya pindah, seolah merangkul saya.
Saya membatin, “kalau macam-macam saya langsung pindah tempat duduk!”
Badan saya sudah saya majukan, tapi tangannya tetap saja merangkul saya. Malah semakin ke bawah.
Sontak tanpa basa basi tanpa permisi, saya berdiri, bawa semua barang saya, seolah akan turun, jalan ke depan (arah kernet dan sopir).

Si bapak kaget, tapi mempersilahkan saya pergi.
Si kernet kaget juga, dikira saya mau turun.
Saya bilang “saya mau duduk disini, turunnya masih nanti.”
Sempat saya mau mengoleskan balsem panas ke tangan bapak tadi, tapi sialnya balsem saya malah jatuh di dalam bus.

Well, akhirnya saya gak diapa-apakan.
Tapi saya trauma naik bus malam.

Sial benar hari itu, menurut saya.
Langsung saya cerita ke mas pacar, dan sempat dia pengen menyusul supaya saya gak harus pergi sendirian.

Well, next time saya mending pergi sama dia. Seriously.

Apa yang ingin saya sampaikan?
Girls, please jangan ikuti saya.
Jangan tiru saya yang bisanya hanya menghindar.
Tiru wanita KRL yang saya ceritakan diatas.

Apapun bentuk sexual harassment yang kamu dapatkan, verbal (perkataan tidak senonoh, pengejekan, dll) apalagi non-verbal (pedofil, ekshibisionis, pervert, dll), lawan!

Apapun yang kamu bisa.
Teriaklah.
Pukul.
Tendang.
Tampar.
Adukan.

You deserve it!
Bukan mengajarkan melakukan kekerasan, tapi melawan apa yang menjadi hak-mu.

Gak ada pasalnya wanita harus mau diapa-apakan oleh lelaki.
Even kamu yang sedang pacaran atau bahkan mungkin menikah dan disakiti lahir/batinnya, perlu melawan.

Memang lari begitu saja bisa jadi pilihan paling cepat, tapi setelah itu, please cerita.
Jangan kamu simpan sendiri.
Let the world know, you can save other woman from the same thing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s