kepada remah roti tawar

Orang baik akan dipertemukan dengan orang yang baik lainnya.

Sounds so cheesy, huh?

But now I know it is true.

Or at least close to the reality

Berusaha jadi orang yang baik, mungkin terucap dan terbayang mudah; tapi seringkali kita butuh berpikir ulang untuk melakukannya.

Respon pertama ketika sedang tanggal tua dan tidak sengaja menemukan uang sepuluh ribu rupiah di jalan? Ambil, masukkan ke kantong sendiri, atau bagaimana?

Atau, respon pertama ketika sedang berhenti di lampu merah, dan melihat tas ransel orang lain yang terbuka? Cuek, atau memberitahukannya?

Jaman sekarang ini, sikap masa bodoh atau apatis semakin banyak dilakukan. Terlebih dengan boomingnya internet dan smartphones, manusia menjadi mahluk social, via media. Alias mahluk social media.

Saya kerap menempatkan kaki dan pikiran saya dengan menjadi orang lain.

Mencoba berpikir apa yang saya lakukan kalau saya menjadi orang yang tas ranselnya tidak sengaja terbuka selama di perjalanan, atau menjadi orang yang tidak sadar saat uangnya hilang.

Dengan diberitahu, saya pasti akan merasa sangat lega dan berterima kasih dengan orang baik yang menegur saya karena tas ransel saya terbuka.

Lantas, mari melakukan apa yang membuat orang lain bahagia. Berbuat baik itu gratis kok, so jangan mengharapkan pamrih.

Tapi saya percaya, kalau saya berbuat baik, at least orang di sekitar saya (keluarga dan sahabat) juga akan ketularan berbuat baik. Dan, nanti kami akan dipertemukan dengan orang baik lainnya ketika kami sedang kesulitan.

Entah itu dalam bentuk fisik, financial, maupun moral.

Well, itu jangka pendek. Efek pendek berbuat baik dan simple serta gratis.

Efek jangka panjang jika kita membiasakan berbuat baik, nikmatinnya later ya.

Saya kadang merasa minoritas ketika berkumpul dengan teman-teman lama. Mendengar mereka bercerita dan berkisah tentang kota atau Negara lain yang pernah mereka kunjungi, mendengar mereka bercerita betapa hebatnya pangkat dan pekerjaan mereka, pastinya membuat saya lesu.

Hmm, saya. Mengenyam pendidikan 3 tahun di Yogyakarta, bertemu dan gagal move on dengan kota ini, memasuki tahun ke empat bekerja, rasanya kok begini-begini saja.

Kota lain yang pernah dikunjungi demi pekerjaan, hanya Jakarta, Solo, Semarang. Negara lain? Masih dalam bayangan angan-angan lesu.

Pekerjaan saya pun begini-begini saja. Berkomunikasi aktif dengan puluhan orang dari belahan dunia berbeda setiap harinya, bertemu bule yang menurut orang WAH sekali, sekarang sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Berjalan dari pabrik satu ke pabrik lainnya, menghirup udara beraromakan kayu dan bahan finishing, berdiskusi perkara pemasaran, target, dan penjualan.

Saya belum pernah membuka mata saya seutuhnya, sampai hari ini saya menyadari.

Di tahun ketiga saya bekerja di perusahaan pertama, saya dengan sengaja-tidak sengaja bertemu/dipertemukan dengan artis-artis ibukota. Ya, mereka datang ke kantor saya untuk survey perihal rencana bisnis mereka.

Senang? Ya. Bangga? Ya. Lumayan foto-foto barengnya bisa saya pamerkan ke media social saya.

Tapi, disimak kembali, mereka juga orang biasa seperti kita kok. Gak semua senyum dan tawa yang dipertontonkan mereka, benar adanya. Gak semua secantik/seganteng itu, gak semuanya se-ramah itu.

Di tiga bulan pertama saya bekerja di perusahaan kedua, saya mulai membuat daftar orang hebat yang pernah saya temui. Ya, tidak seperti artis ibukota tadi, orang-orang ini bermuka, berpakaian, berbicara, berjalan, sama seperti kami semua. Seperti kita. Hanya saja, ketika berbicara perkara pekerjaan mereka, apa yang mereka katakan bisa membuat kita semua terpana.

Well, this is serious.

Senangnya saya berkenalan dan berbisnis dengan mereka, melampaui senangnya saya bertemu artis ibukota.

Walaupun terlihat bukan seperti siapa-siapa, dari pola mereka berkomunikasi dan memilih produk hasil karya perusahaan, kita sudah tahu dia pasti seseorang.

No, saya gak akan menceritakan detail biodata siapa mereka; karena mungkin mereka juga tidak ingin terekspos, saya jelas melihat itu.

Seorang direktur dari sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, CEO dari percetakan buku terbesar di Indonesia, CEO dari perusahaan di Australia yang sudah up-and-downs dalam berbisnis, dan yang hari ini baru saja saya temui, CEO dari platform pencarian kerja pertama di Indonesia.

Wow, saya sendiri masih gak percaya saya pernah ketemu bahkan ngobrol via WhatsApp dengan mereka-mereka.

Tapi, saya ceritakan kemana-mana juga orang mungkin malas untuk peduli, sih. Kadang orang lebih peduli kalau saya ternyata WhatsApp-an sama artis ibukota itu.

Takjubnya saya, adalah tentang sifat-sifat serta perilaku para CEO dan direktur tersebut.

Sebagai miss Kepo cabang Sidoarum, Godean, saya punya kebiasaan (iseng yang entah seringnya jadi kebiasaan baik atau buruk) meng-Google nama orang yang saya rasa hebat.

Mereka tidak akan pernah memperkenalkan diri sebagai: “Saya, CEO dari perusahaan terkenal.”

No, not at all.

Mereka cuma memperkenalkan nama, bahkan seringnya tanpa kartu nama sekalipun. Setelah Googling, baru saya paham siapa dia dan kedudukannya.

Mereka sangat ramah.

Senyum dan mendengarkan lawan bicara, seakan sudah menjadi perilaku otomatis mereka. Menghargai orang lain dan tidak mendominasi pembicaraan.

Mereka berpenampilan rapi.

Sejauh ini, saya belum pernah bertemu orang hebat dengan penampilan berantakan. Bukan mewah dan berkelas, tapi cukup rapi. Gak harus pakai jas, dasi, pantofel.

Mereka santai, dan tidak suka diistimewakan.

Kalau kita makan keripik, mereka ikut. Kalau kita basah terkena hujan, mereka memilih kehujanan juga. Semua candaan dan humor receh juga berlaku untuk mereka, gak perlu selalu formal.

Mereka nyaman berbicara apa adanya, bukan dibuat-buat atau ditutup-tutupi.

Ketika mereka berkata “saya suka sekali!” berarti mereka memang benar-benar suka. Jujur adalah filosofi mereka, kok.

Those are the things I adore them so much, bahkan saya sampai gak tahu, apakah misal saya menjadi CEO, saya bisa se-humble dan heart-warmed seperti mereka.

Kekayaan dan jabatan yang benar itu bukan membutakan, kok. Tapi membukakan mata akan hal yang belum pernah dilihat atau ditemui sebelumnya.

Saya dan rekan kerja pernah berdiskusi via WhatsApp, jadikan ini sebagai reminder dalam kehidupan kita. Orang-orang yang kayanya bukan main dan pegang jabatan tinggi saja, tidak pernah bertindak sok, apalagi kita?

Ingatlah, saat ini saya masih remah roti tawar yang jatuh dan lantas menjadi tepung panir atau makanan semut.

Who knows next jadi roti mahal dari the Harvest?

Duuh, jadi pengen opera cake…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s