Trans Jogja : Berkeliling dengan nyaman!

saya memang sesungguhnya anak Djarum Super.

DJArang di RUMah, SUka PERgi.

awal-awal tinggal di Jogja sebagai mahasiswa dan anak kos, belum bawa sepeda motor. kalaupun mau jalan-jalan pakai sepeda motor, pinjam punya teman kos; dan belum punya SIM pula.

sekarang, ketika sudah ada sepeda motor, malah kadang malas bawanya. di jalan pastinya panas ketika siang hari terik, bau asap kendaraan yang membuat sesak, apalagi kalau harus sendiri kemana-mana.

sedih, sepi.

ini semua alasan biar si mas mau nganter saya kemana-mana :p

but seriously, kadang di kala weekend, tanggal muda, pengennya jalan-jalan. laper mata. tapi males berpanas-panas berjuang di jalanan Yogyakarta.

ada sih moda transportasi berbasis online, tapi rasa-rasanya mengeluarkan uang segitu, sekali jalan, mending buat jajan cilok aja ya?

so, mencoba Trans Jogja merupakan solusi!

sebenarnya, pertama kali naik Trans Jogja, buat saya malah sudah lama. sedari awal kuliah itu, kalau mau mudik dan menuju Terminal Giwangan, saya selalu naik Trans Jogja.

dapat tempat duduk, adem, murah. bersahabat buat mahasiswa yang kalau mudik bawaannya banyak sekali.

bahkan, saya dan teman-teman pernah iseng bolos kelas kuliah, demi ke Candi Prambanan naik Trans Jogja. SWAG abis!

saya lupa tarif awal ketika saya naik Trans Jogja pertama kali. if I’m not mistaken, Rp. 3.500 itu untuk 2 orang. (apa ini tarif mahasiswa ya?)

dan saat ke Candi Prambanan bersama kawan-kawan itu, sekitar Rp. 3.000 per orangnya. masih cukup terjangkau lah yaa..

di tahun 2017 ini, sekitar bulan April lalu, mencoba lagi naik Trans Jogja. alasannya klasik: bus-nya baru, lebih bagus dan lebih adem!

memang belakangan ini sebelum ada armada bus baru, Trans Jogja sering dikeluhkan dengan polusinya yang allahuakbar sekali. sekali gas, niscaya pengendara motor dibelakangnya bertambah keling (plus sesak nafas).

mungkin, merespon keluhan masyarakat, akhirnya mereka menambah armada dan mengganti 80% armada lama yang ada, menggunakan bus-bus baru. tentunya selain polusinya lebih sedikit, interiornya juga masih mulus. diharapkan, armada baru ini bisa lebih menggaet masyarakat untuk menggunakan layanan Trans Jogja.

hasilnya? kalau ke masyarakat sih belum cari datanya, tapi at least, saya pribadi mendadak pengen naik bus Trans Jogja yang baru armadanya itu.

so, berbekal alasan mengunjungi Trans Studio Mini yang baru dibuka di Jogja, berangkatlah saya dan rombongan menggunakan…. Uber.

lha? iya, berangkatnya juga sekalian nyoba UberX yang baru launch di Jogja. pulangnya, barulah naik Trans Jogja.

sekali jalan-jalan, semua yang baru dicoba.

nah, kebetulan sekali, halte Trans Jogja itu baru nambah banyak. halte yang minim tempat dan biaya seperti halte virtual pun bertambah. konon kabarnya, trayek juga diperluas. sampai hari ini, sudah ada Trans Jogja dengan trayek yang melewati Madukismo, Dongkelan, pokoknya area Selatan Jogja. siip~

kalau kalian mau coba jalan-jalan ke Trans Studio Mini Jogja juga enak, halte Trans Jogjanya pas di depan bangunannya. di seberangnya juga ada, tergantung dari dan ke arah mana kalian akan pulang/datang.

fyi, saran saya kalau ke mall/arcade arena di Jogja, mending pakai transportasi umum deh. selain harus bayar, parkir juga sekarang susah. salah-salah malah kalian harus parkir di luar area parkir yang disediakan a.k.a bukan parkir resmi. kasian kalau ada hal yang tidak diinginkan, tidak bisa diklaim, dan si tukang parkir juga bisa suatu saat menaikkan tarif parkir dari ketentuan.

pilihannya bisa pakai transportasi online, taksi konvensional, bus kota, atau ya Trans Jogja seperti ini. pastinya, gak perlu khawatir kalaupun kalian beramai-ramai bersama rombongan. tetap nyaman~

oke, jadi sepulangnya saya setelah bermain-main di Trans Studio Mini, saya dan rombongan langsung ke halte Trans Jogja yang ada persis di depan bangunannya. (padahal ternyata lebih cepat kalau kami menyebrang, gak harus muter ke bandara dulu)

dengan membayar Rp. 3.500 per orangnya, kami menunggu sekitar 7 menit. oya, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, awalnya kami khawatir dengan ketersediaan bus, tapi ternyata bus masih tetap banyak dan on time.

petugas halte Trans Jogja berkata bahwa kami harus transit di bandara, ternyata begitu sampai di bandara… rame.

kami jadi harus menunggu bus Trans Jogja trayek 1A ke sekian untuk akhirnya bisa masuk dan duduk dengan nyaman. tapi gak lama kok, 15 menit saja 🙂

nah, trayek 1A ini ternyata merupakan most wanted trayek di Trans Jogja. secara mereka melayani dari bandara sampai malioboro, melewati beberapa mall dan jalan protokol.

saya sempat memotret beberapa (padahal cuma 2) fasilitas dan interior bus Trans Jogja baru ini:

interior TJ

forgive the backlight 😦

dan ternyata mereka juga memberikan fasilitas buku doa perjalanan, untuk masyarakat:

photo_2017-06-20_13-33-09

buku ini komplit isinya semua agama ada doa perjalanannya. nice~

saya tidak sempat memotret lagi, selain karena akhirnya bus penuh, kamera smartphone juga kurang maksimal dengan cahaya minim dan indoor.

karena kurang puas potret-potretnya, saya dan adik berniat jalan-jalan pakai Trans Jogja lagi, dan akhirnya kesampaian hari Sabtu, 9 Juni yang lalu.

kebetulan si adik minta jajan sepatu yang belinya harus di Ambarrukmo Plaza (Amplaz), dan saya juga lagi lelah kalau harus bolak balik naik motor, jadi lah kami berpetualang berangkat pulang pakai Trans Jogja, dengan cara motor dititipi di parkiran kampus 😀

kami naik dari halte virtual, alias halte yang tidak ada petugasnya. kondisi halte sepi saat itu, hari Sabtu jam 11 siang. fasilitas halte masih layak pakai walaupun berdebu. (ya iya laah namanya juga di pinggir jalan..)

setelah menunggu sekitar 7 menit, datanglah sebuah bus. pintu terbuka dan saya langsung bertanya, “Pak, ke Amplaz bisa?”

“Bisa mba, tapi nanti transit.”

nevermind, saya malah suka kalau harus transit dulu, hitung-hitung cuci mata dan memperpanjang waktu (ketika puasa dan pengen cepat sore)

“Oke”, sambil melenggang masuk ke dalam.

ternyata saya naik trayek 4B, dan di dalamnya masih kosong, hanya terlihat beberapa penumpang. lumayan bisa potret lagi..

photo_2017-06-20_13-33-01
tempat duduk yang masih puff-ey
photo_2017-06-20_13-33-02
nyaman!
photo_2017-06-20_13-33-03
tidak banyak penumpang
photo_2017-06-20_13-33-04
peringatan emergency exit
photo_2017-06-20_13-32-58
cukup lega dan lengang
photo_2017-06-20_13-33-06
fire extinguisher for safety
photo_2017-06-20_13-33-07
handle untuk penumpang yang berdiri

lumayan ada materi buat ditampilkan 😀

saya langsung duduk, sambil bingung ini gimana cara bayarnya?

“mba, bayar pakai kartu langganan, atau cash?”, bapak petugas akhirnya tanya.

“cash pak”, sambil menyodorkan uang pas Rp. 7.000

tapi saya penasaran tentang kartu langganan, maka saya bertanyalah.

“pak, kalau kartu langganan itu gimana? apakah harus mahasiswa/pelajar? berapa harganya?”

si bapak akhirnya menjelaskan lumayan panjang, “kalau kartu langganan buat sendiri mba di halte yang besar. nanti besaran isinya bisa ditentukan sendiri, dan tidak ada masa berlakunya. nanti kalau naik dari halte virtual, langsung tap aja ketika masuk bus.”

whoaaaa, canggihnya (dalam hati aja, malu euy!)

ternyata si bapak juga menggunakan tap cardnya untuk meregistrasi saya sebagai penumpang; hasilnya saya dapat semacam nota kecil sebagai tanda bukti pembayaran.

mungkin kedepannya, memang setiap bus Trans Jogja diharapkan tidak lagi selalu ‘membawa’ petugas, alias self-service mirip yang ada di luar negeri sana.

siang itu kami memulai perjalanan dari kampus UGM, lalu transit di depan SMA Kolase DeBritto, dan dalam 5 menit kami sudah di bus kedua yang menuju ke Amplaz.

singkat cerita belanja dan muter-muter mall, pulangnya kami menyebrang, untuk naik Trans Jogja selanjutnya ke arah kampus UGM.

lumayan lama untuk menunggu trayek yang dimaksud, beberapa trayek lain lewat begitu saja, sekitar 15 menit, akhirnya trayek yang ditunggu datang juga. kali ini bus lumayan ramai, tapi alhamdulillah kami masih dapat tempat duduk.

kami diminta transit terlebih dahulu di halte depan RS Mata dr. Yap, dan tak berselang lama kami langsung naik bus selanjutnya. bus ini sangat ramai, sehingga saya dan adik terpisah duduknya; untung dia sudah tahu dimana kami akan turun.

photo_2017-06-20_13-33-08
suasana bus yang ramai. maafkan blur.

kalau diperhatikan, ramainya bus Trans Jogja ini hanya di beberapa trayek populer; terutama trayek yang melewati sekolah (SD, SMP, SMA) dan pasar/mall.

saya salut dengan adik-adik pelajar yang masih menggunakan transportasi umum, juga dengan kaum ibu-ibu yang terbiasa berbelanja ke pasar atau mall, saya lihat ketika menggunakan bus, mereka terlihat sudah biasa dan nyaman di dalam bus. saya belum sempat menginterview salah satu dari mereka supaya bisa tahu apa kesan pesan dan harapan mereka; mungkin suatu hari nanti.

satu hal yang seringnya dikeluhkan masyarakat tentang Trans Jogja adalah, trayeknya yang seringnya membingungkan (diminta transit, halte tidak dekat dengan tempat tujuan, perubahan trayek, dsb) dan lamanya waktu perjalanan dikarenakan trayek tadi.

pernah saya dengar opini teman, ketika dia akan bepergian ke bandara, ternyata trayeknya mengharuskan untuk melewati malioboro dahulu, yang mana pastinya akan menambah waktu dikarenakan macet, bertambahnya jumlah penumpang, dan tidak langsung ke arah bandara, melainkan mampir-mampir dahulu.

sejauh ini saya setuju dengan beberapa opini tersebut, walaupun memang saya belum update lagi, perubahan trayek terbaru ataupun penambahan trayek terbaru seperti apa.

memang, kalau ingin menggunakan Trans Jogja, syaratnya harus meluangkan waktu. tidak dalam posisi terburu-buru, sehingga bisa menikmati Yogyakarta dari dalam bus.

harapan saya, semoga Trans Jogja bisa terus menjawab kekhawatiran dan keluhan masyarakat Yogyakarta, dan terus ada ditengah semakin padatnya kota ini. syukur-syukur, ditambah trayek sampai jalan Godean KM 8 😛 (ini murni kepentingan pribadi)

dan buat kalian yang belum mencoba menggunakan transportasi umum, boleh lho dicoba sesekali. sooner or later, akan semakin terasa nyamannya transportasi umum. at least itu fenomena yang saya lihat di Jakarta, dimana akhirnya masyarakat mulai beralih ke transportasi umum dengan alasan kenyamanan dan efisiensi waktu.

jadi, kapan kalian mencoba naik Trans Jogja? 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s