Post-Meeting Syndrome

Ketika bekerja dan dipanggil untuk meeting, hal apa yang dibawa langsung?

– notebook&pulpen kesayangan

– smartphone

 

Dan saat meeting, apa yang kamu lakukan?

– menyimak yang sedang bicara

– mencatat hal penting

– berdiskusi untuk mencapai mufakat

 

Setelah selesai meeting, apa yang kamu pikirkan?

– hasil meeting yang akhirnya langsung dikerjakan

– jokes atau pesan penting, selain kerjaan

– sudah jam berapa ini?

Continue reading “Post-Meeting Syndrome”

not a sweet 25

milly and me

dear my best friend: Milly,

 

we’ve known each other since we were six.

at that time, we were two chubby and happy girls, till now.

I still remember, you are very good in dancing Pendet, it’s in your blood.

I still remember your beautiful Balinese make up, every time you dance.

do you still remember how I can’t spell ‘R’ in a right way?

 

though I don’t remember our first meet, all I could remember is that we were from different class in kindergarten.

but we were somehow neighbor.

and we were together until elementary.

I still remember you came to my 7th birthday.

you came with your little brother, wore the same outfit.

you with your ‘boyish’ look, and I with my ‘girlie’ look.

you were the only one I invited from school.

our moms were best friend, too.

yeah, they had exactly the same name.

 

I still remember that you were the one and the first that I told about my first period.

we had our first period, in a same grade.

 

I still remember that I told you who my elementary ‘crush’ was.

I did your advice to wear black t shirt after school, and apparently he wore the same color t shirt, too!

we both know and still curious about him, until today.

 

we were apart when junior high school, unfortunately.

I supposed to be in a same school with my crush, yet we were not meant to be together.

I still remember that you were one among popular girls at school.

I still went to your home; even we were in a different school.

do you remember that I once fall in a flood after go to your home? it was fun!

do you still remember that we once had a phone call (from home telephone) for 2 hours long?

 

and I know that I leave the city.

I moved.

and it was almost like we would never meet again.

 

glad that I still keep your mobile number.

glad that I still remember your home number.

otherwise, I’ll never meet you again.

 

I knew that you were a diva in your high school.

I knew about your boyfriend(s) and ex-es.

we were still on call, for more than 2 hours.

once I could go to the city, I will arrange to meet you.

even it was only fifteen minutes, even it was only an hour.

we were grown up.

we passed our teenage without being side-by-side.

you are the one who open my eyes and add ‘diversity’ part in my life.

 

birthday by birthday, it was always a simple ‘happy bday’ greetings by text.

 

now here we are, still at different city.

you pursue your dream to be a greatest dentist I’ve ever known.

I sitting in office, always being busy.

 

I still remember, last year you were here.

we were in a same city, you visited me with your family.

it was my honored, and I hope it was the best gift I could give to you.

 

because today, I can’t be there.

I still can’t pick up your phone calls.

I still can’t be in your side, when you’re crying.

 

I still remember, early this month, we met.

I came to city, I spent sixteen hours with you.

gossiping, doing make up, hanging out, shopping, sleepover, and most of all, talking about our life.

 

neither sixteen hours meet nor three hours phone call, could stop us.

we’re never bored to be together.

 

this year, must be not a sweet twenty five for you.

you have just face the deep feeling of broken heart.

I might be not the best friend for you,

because I left you.

 

dozens of your calls, abandoned.

dozens of your texts, left.

I know that I’m the one you want to share with.

but I also realized how a bad friend I am.

 

sorry is not acceptable.

forgive is not enough.

but I regret it all.

 

above it all, I would like to deliver a pure happy birthday for you.

be wise, be strong, be forgivable, be independent woman, be yourself.

sounds cliché, but I believe you can.

 

let the past be the past, be prepared for facing your bright future.

I might not always be there with you, but I’m with you for your decision.

you’re the one who told me not too add fire in a burnt wood.

you’re the one who always try to do the good things, even people treat bad to you.

you’re the most forgivable people I’ve ever known.

 

always be the good person, Milly as I’ve known.

 

ps: I’m waiting you at Jogja! 😀

kepada remah roti tawar

Orang baik akan dipertemukan dengan orang yang baik lainnya.

Sounds so cheesy, huh?

But now I know it is true.

Or at least close to the reality

Berusaha jadi orang yang baik, mungkin terucap dan terbayang mudah; tapi seringkali kita butuh berpikir ulang untuk melakukannya.

Respon pertama ketika sedang tanggal tua dan tidak sengaja menemukan uang sepuluh ribu rupiah di jalan? Ambil, masukkan ke kantong sendiri, atau bagaimana?

Atau, respon pertama ketika sedang berhenti di lampu merah, dan melihat tas ransel orang lain yang terbuka? Cuek, atau memberitahukannya?

Jaman sekarang ini, sikap masa bodoh atau apatis semakin banyak dilakukan. Terlebih dengan boomingnya internet dan smartphones, manusia menjadi mahluk social, via media. Alias mahluk social media.

Saya kerap menempatkan kaki dan pikiran saya dengan menjadi orang lain.

Mencoba berpikir apa yang saya lakukan kalau saya menjadi orang yang tas ranselnya tidak sengaja terbuka selama di perjalanan, atau menjadi orang yang tidak sadar saat uangnya hilang.

Dengan diberitahu, saya pasti akan merasa sangat lega dan berterima kasih dengan orang baik yang menegur saya karena tas ransel saya terbuka.

Lantas, mari melakukan apa yang membuat orang lain bahagia. Berbuat baik itu gratis kok, so jangan mengharapkan pamrih.

Tapi saya percaya, kalau saya berbuat baik, at least orang di sekitar saya (keluarga dan sahabat) juga akan ketularan berbuat baik. Dan, nanti kami akan dipertemukan dengan orang baik lainnya ketika kami sedang kesulitan.

Entah itu dalam bentuk fisik, financial, maupun moral.

Well, itu jangka pendek. Efek pendek berbuat baik dan simple serta gratis.

Efek jangka panjang jika kita membiasakan berbuat baik, nikmatinnya later ya.

Saya kadang merasa minoritas ketika berkumpul dengan teman-teman lama. Mendengar mereka bercerita dan berkisah tentang kota atau Negara lain yang pernah mereka kunjungi, mendengar mereka bercerita betapa hebatnya pangkat dan pekerjaan mereka, pastinya membuat saya lesu.

Hmm, saya. Mengenyam pendidikan 3 tahun di Yogyakarta, bertemu dan gagal move on dengan kota ini, memasuki tahun ke empat bekerja, rasanya kok begini-begini saja.

Kota lain yang pernah dikunjungi demi pekerjaan, hanya Jakarta, Solo, Semarang. Negara lain? Masih dalam bayangan angan-angan lesu.

Pekerjaan saya pun begini-begini saja. Berkomunikasi aktif dengan puluhan orang dari belahan dunia berbeda setiap harinya, bertemu bule yang menurut orang WAH sekali, sekarang sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Berjalan dari pabrik satu ke pabrik lainnya, menghirup udara beraromakan kayu dan bahan finishing, berdiskusi perkara pemasaran, target, dan penjualan.

Saya belum pernah membuka mata saya seutuhnya, sampai hari ini saya menyadari.

Di tahun ketiga saya bekerja di perusahaan pertama, saya dengan sengaja-tidak sengaja bertemu/dipertemukan dengan artis-artis ibukota. Ya, mereka datang ke kantor saya untuk survey perihal rencana bisnis mereka.

Senang? Ya. Bangga? Ya. Lumayan foto-foto barengnya bisa saya pamerkan ke media social saya.

Tapi, disimak kembali, mereka juga orang biasa seperti kita kok. Gak semua senyum dan tawa yang dipertontonkan mereka, benar adanya. Gak semua secantik/seganteng itu, gak semuanya se-ramah itu.

Di tiga bulan pertama saya bekerja di perusahaan kedua, saya mulai membuat daftar orang hebat yang pernah saya temui. Ya, tidak seperti artis ibukota tadi, orang-orang ini bermuka, berpakaian, berbicara, berjalan, sama seperti kami semua. Seperti kita. Hanya saja, ketika berbicara perkara pekerjaan mereka, apa yang mereka katakan bisa membuat kita semua terpana.

Well, this is serious.

Senangnya saya berkenalan dan berbisnis dengan mereka, melampaui senangnya saya bertemu artis ibukota.

Walaupun terlihat bukan seperti siapa-siapa, dari pola mereka berkomunikasi dan memilih produk hasil karya perusahaan, kita sudah tahu dia pasti seseorang.

No, saya gak akan menceritakan detail biodata siapa mereka; karena mungkin mereka juga tidak ingin terekspos, saya jelas melihat itu.

Seorang direktur dari sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, CEO dari percetakan buku terbesar di Indonesia, CEO dari perusahaan di Australia yang sudah up-and-downs dalam berbisnis, dan yang hari ini baru saja saya temui, CEO dari platform pencarian kerja pertama di Indonesia.

Wow, saya sendiri masih gak percaya saya pernah ketemu bahkan ngobrol via WhatsApp dengan mereka-mereka.

Tapi, saya ceritakan kemana-mana juga orang mungkin malas untuk peduli, sih. Kadang orang lebih peduli kalau saya ternyata WhatsApp-an sama artis ibukota itu.

Takjubnya saya, adalah tentang sifat-sifat serta perilaku para CEO dan direktur tersebut.

Sebagai miss Kepo cabang Sidoarum, Godean, saya punya kebiasaan (iseng yang entah seringnya jadi kebiasaan baik atau buruk) meng-Google nama orang yang saya rasa hebat.

Mereka tidak akan pernah memperkenalkan diri sebagai: “Saya, CEO dari perusahaan terkenal.”

No, not at all.

Mereka cuma memperkenalkan nama, bahkan seringnya tanpa kartu nama sekalipun. Setelah Googling, baru saya paham siapa dia dan kedudukannya.

Mereka sangat ramah.

Senyum dan mendengarkan lawan bicara, seakan sudah menjadi perilaku otomatis mereka. Menghargai orang lain dan tidak mendominasi pembicaraan.

Mereka berpenampilan rapi.

Sejauh ini, saya belum pernah bertemu orang hebat dengan penampilan berantakan. Bukan mewah dan berkelas, tapi cukup rapi. Gak harus pakai jas, dasi, pantofel.

Mereka santai, dan tidak suka diistimewakan.

Kalau kita makan keripik, mereka ikut. Kalau kita basah terkena hujan, mereka memilih kehujanan juga. Semua candaan dan humor receh juga berlaku untuk mereka, gak perlu selalu formal.

Mereka nyaman berbicara apa adanya, bukan dibuat-buat atau ditutup-tutupi.

Ketika mereka berkata “saya suka sekali!” berarti mereka memang benar-benar suka. Jujur adalah filosofi mereka, kok.

Those are the things I adore them so much, bahkan saya sampai gak tahu, apakah misal saya menjadi CEO, saya bisa se-humble dan heart-warmed seperti mereka.

Kekayaan dan jabatan yang benar itu bukan membutakan, kok. Tapi membukakan mata akan hal yang belum pernah dilihat atau ditemui sebelumnya.

Saya dan rekan kerja pernah berdiskusi via WhatsApp, jadikan ini sebagai reminder dalam kehidupan kita. Orang-orang yang kayanya bukan main dan pegang jabatan tinggi saja, tidak pernah bertindak sok, apalagi kita?

Ingatlah, saat ini saya masih remah roti tawar yang jatuh dan lantas menjadi tepung panir atau makanan semut.

Who knows next jadi roti mahal dari the Harvest?

Duuh, jadi pengen opera cake…….