mengayemkan hati

berbahagialah kalian yang punya akun di setiap media sosial.

era friendster, punya. sering tulis shoutout ber-glitter, post testimoni ke banyak teman.

kamu pun move on, dan datanglah facebook. mulailah kamu berstatus galau, sering upload foto-fotomu yang kamu ambil dengan kamera seadanya, sampai ngerumpik di grup yang isinya teman sekelas dan ngobrolin sinetron yang kalian tonton setiap malam.

akhirnya banyak orang yang beranggapan, penghuni facebook isinya alay semua. pakai nama TagIinginDdicHakitIi, buat status gak penting, sampai foto yang 1 angle tapi diupload puluhan kali.

dan dunia media sosial pun kembali segar dengan kemunculan twitter. bermodalkan irit hemat dengan hanya 140 karakter, twitter terbukti mampu menyegarkan pengguna media sosial, bahkan keberadaannya masih dirindukan dan pengguna aktifnya juga banyak.

to be honest in my very humble opinion, banyak orang-orang besar yang lebih komunikatif di twitter, daripada facebook.

twitter mampu mencetak banyak the-so-called selebtwit di bidangnya masing-masing.

fiturnya yang dibilang micro-blog, yang akhirnya menarik banyak blogger kawakan di Indonesia untuk ikut berkicau di twitter, untuk kemudian mendapatkan respon langsung dari pengikut dan pembacanya.

ketika beberapa alay pindah ke twitter, mereka seakan tidak betah. twitter bisa post foto (twitpic), tapi tidak se-mudah dan se-narsis facebook. twitter bisa buat update status galau, tapi tidak se-bebas facebook; karena keterbatasan karakternya.

akhirnya banyak pengguna twitter pindahan dari facebook, yang gak betah dan berakhir cuma buat akun yang kemudian passwordnya sudah lupa.

facebook hardcore user stays, twitter hardcore user stays.

mereka sudah punya wadah masing-masing, ketika kemudian instagram dan path hadir.

saya lupa mana yang lebih dulu hadir, tapi yang saya ingat, saya punya instagram terlebih dulu.

instagram menawarkan sosial media yang lebih fokus di upload foto (dan kemudian video), lantas menulis caption / keterangan se-banyak mungkin, dan menambahkan hashtags, serta layanan edit foto basic gratis, untuk kemudian dibagikan di seluruh dunia.

ya, untuk menemukan foto yang di upload pengguna lain, pengguna tak harus saling add / follow, cukup tap atau search hashtag yang digunakan, lantas foto-foto dengan karakter yang serupa / mirip, tersedia begitu saja.

penarsis mania sangat senang dengan instagram, termasuk juga penjual barang dengan cara online. mereka tak lagi membandingkan sosial media satu dengan yang lainnya, tapi mengkategorisasikannya sesuai dengan fitur unggulannya.

facebook – life event

twitter – miniblog

instagram – photo sharing

sampai sekarang, instagram mampu melesat dalam hal update aplikasi. mulai dari fitur video upload, video berdurasi 1 menit, timeline, sampai memunculkan aplikasi anakan yang dapat digunakan usernya secara gratis; boomerang, hyperlapse, layout.

dan instagram user, saat ini juga lebih beragam dan tidak hanya iseng-iseng upload, melainkan serius upload, karena yang di upload adalah gambar kualitas tinggi, dan standar tinggi.

terakhir (yang saya mau bahas), path.

path hadir dengan keunggulan fiturnya yaitu private sharing.

path membatasi penggunanya memiliki berapa teman (dulu 150, sekarang 500 kah?) yang bisa melihat apa yang kita sharing.

jenis dari apa yang mau kita sharing juga beragam; status (bisa kasih sticker lucu), gambar, lokasi kita, musik/buku/film apa yang kita nikmati, sampai kapan kita bangun tidur, dan kapan kita tidur, berapa lama, dimana (coming soon, sama siapa tidurnya).

fitur khas path juga adalah kita bisa lihat, siapa dan berapa teman kita yang sudah melihat apa yang kita share; sehingga kode-kode bisa dengan lugas tersampaikan ehh…

akan tetapi, rasanya saat ini saya kurang sreg dengan path user, yang pada akhirnya accept all friend request just because they had a same school, atau karena dia saudara jauh jadi gak enak kalau gak di accept.

termasuk, ternyata ada beberapa user yang masih sering iseng capture hasil share orang lain, untuk kemudian disebar luaskan di khalayak. padahal kan private sharing.

cukup sekian penjelasan tentang media sosial yang (at least) saya gunakan. ya walaupun saya sudah jarang aktif di path sekitar 2 bulan

yang saya pengen sorot adalah kebiasaan kita (pada umumnya, atau saya pada khususnya) ketika menjadi pengguna aktif media sosial.

saya pribadi, tersentil ketika rekan saya yang seorang HRD bilang dengan entengnya, “sebelum wawancara, di googled dulu aja nama calon karyawannya, kepoin socmednya, jadi tau aslinya kaya apa.”

oops.

saya lock facebook account saya, dari public yang belum jadi teman saya. hal tersebut sudah lama saya lakukan, karena saya mulai lelah dapat notif friend request dari orang yang sebetulnya gak saya kenal.

saya juga aktifkan fitur timeline review, untuk jaga-jaga kalau-kalau ada yang tiba-tiba tag saya dari status lama, atau foto lama, yang bisa bikin geleng-geleng kepala dan memalukan.

saya juga tak lupa menyaring teman-teman facebook saya, yang mana yang ternyata akunnya di hack online shop, yang mana yang lama-lama udah gak saling kenal lagi, yang mana yang memang saya dulu iseng accept; sehingga yang darinya dulu saya punya friend 1200-an (yes 1200, bahkan kalau diundang nikahan saya sampe harus nyewa gelora bung karno kali), sekarang hanya tinggal 400-an (termasuk yang saya gak tega mau remove karena orangnya baik atau dia share info yang membantu).

so, facebook saya aman kalau mau di kepoin.

ada ke-alay-an moments saya, 6-7 tahun yang lalu, di jaman SMA saya masih pacaran sama kakak kelas. silahkeun di kepoin, saya pikir itu wajar, namanya juga ABG SMA.

twitter saya, ramai.

sampai hari ini, saya sudah berkicau hampir 32 ribu kali, dalam waktu kurang dari 10 tahun. WOW. saya sendiri aja kaget, betapa gak pentingnya saya berkicau.

twitter saya gak saya lock, so come and kepo you could. saya sempat gak aktif twitter selama hampir 1 tahun, sampai akhirnya saya balik lagi, dan kali ini berusaha sekuat mungkin untuk berkicau hal yang bermanfaat; bukan mengutuk orang atau membeberkan aib orang.

instagram saya random, dan gak saya lock juga. di instagram, saya lebih bijak, karena saya punya instagram ketika masa alay sudah terlewati.

yaa, kemampuan motret juga berkembang lah harusnya 😀

saya jarang aktif instagram, karena jarang menemukan foto yang pantas di share, dan karena instagram sangat menyedot kuota internet saya.

path, saya sudah inactive sekitar 2 bulan ini.

dari path akhirnya saya belajar, bahwa punya beragam akun sosial media itu, gak ada bangga-bangganya.

lupa tanggal berapa, saya mulai malas bersosialisasi di dunia maya.

yang saya rasakan, banyak hawa negatif dari hanya sekedar upload.

sampai pernah saya bertanya ke diri saya, masihkah kita punya privasi? ketika apapun yang kita rasakan, pikirkan, lakukan, bisa di share dengan umumnya.

ketika dulu masyarakat sangat menutup rapat album fotonya, saat ini orang beramai-ramai mengunggah foto pribadinya.

saat dulu kita senang, teman kita ada yang sukses, saat ini ketika teman sukses dan diupload di social media, malah kita akhirnya ngomongin di belakang.

dan yang paling membuat malas adalah… rasa-rasanya semua orang mendadak ingin seperti orang lain.

ada teman yang pergi ke suatu tempat, mendadak kita latah pengen kesitu.

ada teman yang membeli sesuatu, mendadak kita latah seolah butuh membeli barang itu juga.

itu manusiawi dan gak ada yang salah, tapi saya berpikir; mungkin… hanya jika mungkin kalau orang berhenti over share, hal-hal serba latah seperti tadi itu, tidak perlu terjadi.

dan ketika saya sudah malas, saya memilih pergi. mengurangi atau bahkan menghentikan aktivitas sosial media saya.

demi ayemnya hati sendiri, dan mungkin hati orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s