It’s not easy to be a perfectionist

momen beres beres kamar.
stationary harus di taruh di laci khusus.
baju harus di sort berdasarkan kegunaan.
alat make up ditata sesuai bentuk.
ventilasi harus lancar.
wind flow diatur.
pengharum ruangan harus ada, dan wanginya menyegarkan; bukan menenangkan.
saya gak sadar kapan saya mulai menjadi perfeksionis.
yang saya ingat, saat SD, saat saya sudah diberikan kamar tidur sendiri dan sudah disuruh beberes sendiri, saya selalu meletakkan sesuatu pada tempatnya.
itu yang ditekankan sama papa saya.
‘Put a right thing in a right place, so does put and suit yourself in your current place.’
berlanjut ketika SMP, pas lagi pindahan dari Bekasi ke Bumiayu, dan menata barang barang sendiri, merasa lagi perfeksionisnya.
SMA, dan mulai sering ditunjuk jadi divisi acara almost in all events.
dan selalu pengen acaranya perfek.
kuliah, acara beres beres kamar kos selalu kejadian kaya diatas tadi.
puncaknya yang masih kerasa, pas ngerjain tugas akhir dan wisuda.
per hari menargetkan diri sendiri, harus bisa selesai berapa lembar, berapa bab.
apa aja yang harus ditanyain saat bimbingan, mark all calendar.
karena termasuk yang ‘maksa’ harus ikut rombongan wisuda gelombang ke-2.
persiapan pendadaran juga disempurnakan.
cue card dihias namun simple, konsumsi di arrange H-1, datang harus minim 30 menit sebelumnya.
H-30 wisuda, dari mulai sepatu, make up, kebaya, kain, jilbab, penginapan selama orang tua disini, mobil buat kemana mana, sampai undangan buat sahabat dan itinerary sudah siap.
walaupun sadar kalau gak ada event yang sempurna, tapi persiapan tetep maksimal dilakukan.
persiapan ngelamar kerja pun gitu.
semua dokumen dibawa, di copy, dimasukkan ke amplop, cek berkali kali, baru puas.
herannya, ini pas udah kerja, kadang agak berkurang perfeksionisnya.
masih sih dalam hal penyusunan to do list.
tanpa to do list, apalah kerjaanku… gak ngerti harus mulai dari mana dan apa yang harus dikerjakan.
buat to do list pakai skala prioritas dari yang terpenting ke yang bisa ditunda.
gampang dan enak kah jadi perfeksionis?
gak gampang, karena sekarang saya merasakan.
gak bisa kerja kalau gak teratur.
sampai kantor – nyalakan obat nyamuk – beres beres meja – nyalain laptop – streamingan – cek blog – cek all socmed di smartphone – tulis dan cek to do list – mulai kerja.
itu urutan dan harus, kalo ada yang miss, bete.
maybe some people will be like ‘kan kalo gak lo lakuin juga gapapa?’
jawabannya:
gak bisaa!
kepikiran seharian, sampe udah di rumah, sampe mau tidur.
kadang aja mau tidur udah kepikiran besok harus ngapain aja, sampe akhirnya nulis to do list di smartphone.
gak enak kan…beban aja gitu di pikiran.
tapi ada positifnya juga kok, menghilangkan rasa was was dan cemas saat hari H.
dan ketika sore sore mau pulang kerja, bisa lancar laporan ke atasan. what have you done, dan lain lain.
berefek juga jadi dipercaya, walaupun kadang jadi banyak yang memenfaatkan si perfeksionis karena ‘pasti beres kalau sama dia’.
untungnya, saya gak sampai Obsessive Compulsive Disorder.
a little maybe, tapi gak sampai akut.
saya benci lihat sesuatu gak pada tempatnya; even di rumah orang.
saya yang paling langganan marah marah di rumah pacar, kalau dia taruh barang sembarangan.
padahal dia yang punya rumah ya?
sampai si pacar selalu beres beres ketika saya mau dateng ke rumah.
bagus dong, tapi juga dia bete kenapa gue mengharuskan semuanya tertib.
“biar enak diliatnya”, gue jawab.
saya geregetan sama temen kantor, yang meja kerjanya berantakan.
saya gemas lihat alat alat kantor berceceran.
saya gatel lihat orang yang habis kerja, gak diberesin lagi.
tapi soal kebersihan, I don’t complain much.
buktinya, saya jarang mandi.
kadang masih ada debu di meja kerja dan kamar saya.
saya sering menunda acara mencuci.
but once I do it, I do it like a pro.
sekali saya menyikat lantai kamar mandi, gak boleh ada 1 kotoran pun menempel.
sekalinya saya mandi di hari libur, bisa 30 menit lamanya.
beberes meja kerja, bisa seharian karena banyak yang harus di file.
saya filing berdasarkan keperluannya, sama seperti saya menyusun baju di lemari saya.
sekalinya adik atau mama taruh baju sembarangan, saya senewen.
itu termasuk OCD gak ya? *garuk2*
oh ternyata kata wikipedia, it is OCPD.
Obsessive–compulsive personality disorder (OCPD), also called anankastic personality disorder, is a personality disorder characterized by a general pattern of concern with orderliness, perfectionism, excessive attention to details, mental and interpersonal control, and a need for control over one’s environment, at the expense of flexibility, openness, and efficiency.
soal keuangan, I’d rather say saya masih butuh konsultan keuangan.
tapi perencanaan pribadi saya, terpengaruh sama perfeksionis saya.
di notepad smartphone, sudah ada perencanaan keuangan sampai at least 3 bulan kedepan.
di kamar, saya tulis dan tempel di lemari saya perencanaan keuangan bulan depan.
di agenda book yang saya bawa, ada perencanaan keuangan bulan ini dan bulan depan.
saya pun selalu bawa buku kas, untuk menuliskan pengeluaran keuangan saya.
gitu amat ya?
meanwhile, saya sadar hal ini secara gak langsung diajari oleh papa.
papa itu, setiap pulang kerja, rumah harus beres dan rapi dan bersih.
ada debu dikit aja, marah.
ada gunting di atas meja makan, marah.
papa dengan ikhlasnya membereskan dan membersihkan rumah, supaya bisa sesuai dengan keinginannya.
bagus kok efeknya, cuman…
ya gitu deh….
by the way, ini kata wikipedia tentang perfectionist:
“Perfectionists strain compulsively and unceasingly toward unobtainable goals, and measure their self-worth by productivity and accomplishment.Pressuring oneself to achieve unrealistic goals inevitably sets the person up for disappointment. Perfectionists tend to be harsh critics of themselves when they fail to meet their standards.”
dan ini hasil tes saya tentang perfectionist:
lastly, kalau kalian ngerasa kaya saya, satu dua poin yang saya ceritakan ada benarnya, may be you should do a test, or ngeliat darimana kok kalian bisa jadi seperti itu.
dimanfaatkan untuk hal yang positif ya! 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s